MAKKIYAH DAN MADANIYAH
Qurota A’yunin Fitriyah dan Slamet Waluyo
Mahasiswa-Mahasiswi PAI-B
Semester 3 UIN Maliki Malang
Dosen
Pembimbing : Benny Afwadzi, M.Hum
Abstract
In Islam, the Qur'an is believed to be the word of Allah
which is the main source of the teachings of Islam itself in addition to other
sources. Because the Qur'an is a book of Islamic guidance which according to
the language of the Qur'an has the meaning of reading or reading. The verses of
the Qur'an are passed down through a gradual process of time. The period of
descent of these verses is divided into two, ie before and after the Hijrah of
Prophet Muhammad SAW. All the verses revealed in Makkah and its surroundings,
before the hijra are called Makkiyah verses. And the verses that descend after
the Prophet (s). Hijrah to Medina, though not exactly down in Madinah called
Madaniyah. In order to conform to the universal legal characteristics, a proper
understanding of them is required. Starting from the concept of Makkiyah and
Madaniyah in the view of the classical scholars, the number of surahs of the
Qur'an that descended on Makkah and which descended on Madinah, the way of
knowing Makkiyah and Madaniyah, the characteristics of the makkiyah surah, the
specialties of Makkiyah and Madaniyah letters as well as the usefulness of
knowing makkiyah and madaniyah.
Abstrak
Dalam agama Islam Alquran dipercaya sebagai kalam Allah yang
menjadi sumber pokok ajaran agama Islam itu sendiri di samping sumber-sumber lainnya.
Karena Alquran merupakan kitab pedoman umat
islam yang menurut bahasa Alquran mempunyai arti bacaan atau yang dibaca.
Ayat–ayat Alquran diturunkan melewati suatu proses masa secara berangsur-ansur.
Masa turunnya ayat-ayat ini dibagi menjadi dua, yakni sebelum dan sesudah
Hijrah Nabi Muhammad SAW. Semua ayat yang diturunkan di Makkah dan sekitarnya,
sebelum hijrah disebut ayat Makkiyah. Dan ayat-ayat yang turunnya sesudah Nabi
SAW. Hijrah ke Madinah, sekalipun tidak persis turun di Madinah disebut
Madaniyah. Agar sesuai dengan karakteristik hukumnya universal, maka diperlukan
pemahaman yang tepat terhadapnya. Mulai dari konsep Makkiyah dan Madaniyah
dalam pandangan ulama klasik, jumlah surah Alquran yang turun di
Makkah dan yang turun di Madinah, cara mengetahui Makkiyah dan Madaniyah, ciri-ciri surah
makkiyah, keistimewaan surat-surat Makkiyah dan Madaniyah, dan juga pula faedah
mengetahui makkiyah dan madaniyah.
Keyword : Alquran,
Characteristic, Makkiyah, Madaniyah, Concept
A. Pendahuluan
Alquran dipercaya sebagai kalam Allah yang
menjadi sumber pokok ajaran agama Islam di samping sumber-sumber lainnya.
Kepercayaan terhadap kitab suci ini dan pengaruhnya dalam sejarah umat Islam
sudah terbentuk sedemikian rupa sehingga percaya terhadap kitab suci menjadi
salah satu rukun iman. Pada era globalisasi sekarang ini, muncul berbagai
perubahan yang cukup signifikan dalam memahami isi dan ajaran kitab suci
tersebut, sebagai kelanjutan dari dinamika pemikiran tentang penafsirannya yang
sudah berkembang pada masa-masa sebelumnya. Gejala ini terjadi tidak hanya di
kalangan umat Islam, tetapi juga di kalangan umat beragama lainnya.[1]
Alquran merupakan kitab pedoman umat islam,
yang diketahui menurut bahasa Alquran mempunyai arti bacaan atau yang dibaca,
Alquran adalah “mashdar” yang diartikan dengan arti isim maf’ul, yaitu “maqru =
yang dibaca”. Menurut istilah ahli agama (‘uruf Syara’) ialah : “Nama bagi
kalamullah yang diturunkan kepada Nabinya Muhammad SAW yang ditulis dalam
mashhaf.”
Tegasnya, Alquran itu menunjukkan kepada
pengertian tersebut secara hakikat. Mereka ahli ushul membahas Alquran dari
jurusan kedudukannya sebagai pokok dalilhukum. Maka yang menjadi pokok dalil
itu, ialah: ayat-ayatnnya. Maka yang menjadi pokok dalil itu, ialah :
ayat-ayatnya. Maka tiap satu ayat itu, dinamai Alquran.[2]
Ayat–ayat Alquran
diturunkan melewati suatu proses masa secara berangsur-ansur. Masa turunnya
ayat-ayat ini dibagi menjadi dua, yakni sebelum dan sesudah Hijrah Nabi
Muhammad SAW. Masa Nabi Muhammad SAW tinggal di Mekkah, selama 12 tahun 5 bulan
12 hari terhitung sejak tanggal 17 Ramadhan tahun ke -41 dari kelahirannta
sampai awal Rabiul Awal tahun ke-54 sejak kelahirannya. Semua ayat yang
diturunkan di Makkah dan sekitarnya, sebelum hijrah disebut ayat Makkiyah. Dan
ayat-ayat yang turunnya sesudah Nabi SAW. Hijrah ke Madinah, sekalipun tidak
persis turun di Madinah disebut Madaniyah.[3]
Agar sesuai dengan
karakteristik hukumnya universal, maka diperlukan pemahaman yang tepat
terhadapnya.[4]Maka
kita sebagai umat muslim yang baik sangat perlu sekali untuk memahami secara
detail dan rinci tentang ayat-ayat Alquran mulai dari konsep dasar Alquran,
sejarah dan juga pula tentang ayat-ayat makkiyah dan madaniyah. Dalam artikel
ini akan kita ulas mulai dari konsep makkiyah dan madaniyah menurut ulama
klasik, jumlah ayat yang diturunkah di mekka dan madinah, cara membedakan surat
makkiyah dan madaniyah, dan juga memaparkan faedah dalam mempelajari makiyyah
dan madaniyah.
B. Konsep Makki dan Madani dalam
Pandangan Ulama Klasik
Jumhur Ulama sepakat bahwa dalam memahami
ayat-ayat Alquran, seorang penafsir haruslah menggunakan perangkat-perangkat
tafsir. Hal ini dilakukan agar para penafsir Alquran tidak melakukan
penyimpangan yang terlalu jauh ketika menafsirkan Alquran. Teori Makki dan
Madani sebagai salah satu kajian historis tentang ayat-ayat atau surat Alquran termasuk
bagian dari perangkat tafsir yang digagas oleh ulama mutaqaddimin dan kemudian
dikembangkan oleh ulama kontemporer. Kita perhatikan pengertian Makki dan
Madani dalam pandangan Ulama klasik.[5]
Pengertian makki dan madani menurut al-Zarkasyi[6] ada tiga pendapat,
diantaranya;
1.Pendapat yang menyatakan bahwa makki
adalah ayat atau surat yang diturunkan di Makkah, dan madani adalah ayat
atau surat yang diturunkan di Madinah
2.Pendapat
yang menyatakan yang
dimaksud makki adalah ayat
atau surat yang turun sebelum hijrah nabi Muhammad saw. Sedangakan madani
adalah ayat atau surat yang turun setelah hijrah nabi Muhammad saw. Pendapat
ini yang paling masyhur
3.Pendapat terakhir menyatakan bahwa makki
adalah ayat atau surat yang di-khitab-kan pada penduduk Makkah,
sedangkan madani di- khitab-kan pada penduduk Madinah.
Tiga
pengertian makki dan madani diatas sama persis dengan pengertian versi al-Suyuti[7]yang
mengacu tiga pendapatseperti yang telah dijelaskan. Perbedaannya hanya pada
urutan penempatan6, kalau al-Suyuti menempatkan pendapat
paling masyhur di urutan pertama yang oleh al-Zarkasyi ditaruh di urutan
ke-2. yakni yang dinamakan makki adalah ayat atau surat yang diturunkan
sebelum Hijrah dan madani adalah ayat atau surat yang diturunkan setelah
hijrah. al-Suyuti menambahkanbahwa ayat yang turun di luar masa itu
yaitu baik di Makkah atau di Madinah, pada masa Fath makkah, haji wada’,
dan pada waktu perjalanan dakwah, merujuk pada riwayat Utsman bin Sa’id
al-Razi sampai padaYahya bin Salam mengatakan “ayat yang turundi
Makkah dan ayat yang turun di tengah perjalanan ke Madinahnamun Nabi belum
sampai kota Madinah, maka termasuk ayat makki. Dan ayat yang turun di
beberapa perjalanan Nabi setelahbeliau sampai di kota Madinah, maka ayat itu
termasuk madani”
ﻣﺎ ﻟﺰل ﺑﻤﻜﺔ وﻣﺎﻧﺰل ﻓﻰ طﺮ ﯾﻖ اﻟﻤﺪ ﯾﻨﺔ ﻗﺒﻞ أن ﯾﺒﻠﻎ
اﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﷲ ﻋﻠﯿﮫ و ﺳﻠﻢ اﻟﻤﺪ ﯾﻨﺔ ﻓﮭﻮ ﻣﻦ اﻟﻤﻜﻰ. وﻣﺎ ﻧﺰل ﻋﻠﻰ اﻟﻨﺒﻰ ﺻﻠﻰ ﷲ ﻋﻠﯿﮫ وﺳﻠﻢ
ﻓﻰ أﺳﻔﺎره ﺑﻌﺪ ﻣﺎ ﻗﺪم اﻟﻤﺪ ﯾﻨﺔ ﻓﮭﺮ ﻣﻦ اﻟﻤﺪ ﻧﻲ.[8]
Dengan demikian, bila mengacu
riwayat tersebut, turunnya ayat pada saat perjalanan hijrah Nabi dinamakan ayat
makki.
Kategori yang dipakai dari pengertian makki
dan madani yang paling masyhur seperti yang telah dikemukakan berdasarkan
hitungan fase. Yakni fase sebelum dan setelah hijrah. Dalam Makkah, walaupun
ada kemungkinan yang tidak termasuk kafir pun juga masuk golongan yang dikhitabkan.
Sedangakan lafadz khitab untuk penduduk Madinah yang mayoritas kaum
berimanadalah”ya ayyuha al-lazina amanu”[9]
Pendapat diatas pun masih menyisakan pertanyaan
lain,bagaimana kasus yang ada di surat al-Baqarah:281 para ulama sepakat bahwa
ia termasuk surat madaniyah, tapi dalam ayat 21, dan 128 mengandung
karakteristik ayat makkiyah? Surat an-Nisa’ disepakati madaniyyah
tapi di pembukanya memakai khitab “ya ayyuhan nas”, selanjutnya
surat al-Hajj termasuk makkiyah, namun ayat 77 memakai khitab “ya
ayyuha al-lazina amanu”. Dalam kasus ini, sebagian ulama
mengecualikannya,diantara mereka al-Zarkasyi dan al-Suyuti. Kedua
tokoh itu menambahkan bahwa kasus masuknya alat khitab tersebut sah-sah
saja, apalagi “ya ayyuhan nas “ dan”ya ayyuha al-lazinaamanu” hanyalah
ciri-ciri umum cara Alquran ketika berbicarakepada penduduk Makkah dan Madinah.
Alasannya, Alquran sesungguhnya di-khitab-kan kepada seluruh makhluk di
semesta ini, jadi sah saja bila Alquran ketika berbicara kepada orang-orang
yang beriman menyebut mereka dengan sifat, nama dan jenis mereka, sebagaimana
sah pula jika Alquran memerintahkannon-mukmin untuk menjalankan ibadah mereka
seperti halnya memerintahkan mukminin untuk istiqamah dan
bersungguhdalam ibadah nya.[10]
Manna’ Khalil Qattan pengarang Mabahis fi
Ulum al-Qurantidak mendefinisikan secara khusus tentang pengertian Makkidan
Madani, ia menyebutkan bahwa ada sekitar 14 poin penting dalam studi Makki dan
Madani: 1) ayat yang turun di Mekkah 2) yang turun di Madinah; 3) yang diperselisihkan;
4) ayat-ayat Makkiah dalam surah Madaniah; 5) ayat Madaniah dalam surah
Makkiah; 6) yang diturunkan di Mekkah sedang hukumnya di Madinah; 7) yang
diturunkan di Madinah sedang hukumnya di Mekkah; 8) yang serupa dengan yang
diturunkan di Mekkah (makki) dalam kelompok madani; 9) yang serupa diturunkan
di Madinah (madani) dengan kelompok Makki; 10) yang dibawa dari Mekkah ke
Madinah; 11) yang dibawa dari Madinah ke Mekkah; 12) yang turun waktu malam dan siang; 13) yang
turun musim panas dan dingin; 14) yang turun waktu menetap dan dalamperjalanan.
Tema bahasan inilah barangkali yang menginspirasi Nasr Hamid Abu Zaid untuk
melakukan rekonstruksi ulang tentang teori Makki-Madani.[11]
Bagi Abu Zaid, studi makki dan madani
adalah bentuk dialektika teks dengan realitas khususnya ketika ia menyapa
sasaran penerimanya (Nabi). Perbedaan Makki dan Madani dalam teks merupakan
perbedaan antara dua fase pentingyang memiliki andil dalam pembentukan teks,
baik dalam taraf kandungan / isi ataupun strukturnya. Oleh karena itu, teks itu
sendiri merupakan interaksi realitas yang dinamis-historis.Abu Zaid membagi
pandangannya terhadap problematika pembacaan klasik tentang makki dan madani
menjadi lima bagian, dua bagian mengenai konsep makki dan madani,
dantiga bagian lainnya merupakan permasalahan tentang metode kompromi ulama
dalam tenentuan makki dan madani. Lima bagian itu adalah; pertama,
Norma-norma pembedaan, ; kedua, gaya bahasa, ; ketiga, Metode
ekletik (talfiq) di antara riwayat,; keempat, Hipotesis tentang
penurunan berulang (takarrar an-Nuzul), ; dan kelima, Pemisahan
antara teks dan hukumnya.[12]
Dalam
studi Alqurandikenal adanya tiga pengertian dalam Makkiyah
danMadaniyah. Pertama, Makkiyah adalah ayat yang turun di Makkah dan
Madaniyah adalah ayat yang turun di Madinah. Kedua, Makkiyah adalah ayat
yang turun sebelum hijrah sekalipun turun di Madinah dan Madaniyah adalah ayat
yang turun setelah hijrah meskipun turun di Makkah. Ketiga, Makkiyah
adalah ayat yang sasarannya tertuju kepada penduduk Makkah dan Madaniyah ayat
yang tertuju kepada penduduk Madinah.[13]
C. Jumlah Surah Alquran yang Turun di Mekkah dan yang Turun di Madinah
Para
ahli tafsir tiada sekata dalam menetapkan jumlah surah yang turun di Madinah.
Bahkan mereka berselisih paham pula tentang menentukan surat-surat Makkiyah dan
tentang menentukan surat-surat Madaniyah.[14] Al
Khudlary dalam kitab tarikh tasyri’ menetapkan, bahwa jumlah Alquran yang turun
di Mekkah sejumlah 19/30 dan yang turun di Madinah 11/30. Surat-surat di Makkah
sejumlah 91 dan yang turun di Madinah sejumlah 23.
Bila
kita periksa Al-Munshaf dan kita perhatikan keterangan-keterangan yang terdapat
dipermulaan tiap-tiap surat, nyatalah bahwa surat yang turun di Mekkah sejumlah
86, dan yang turun di Madinah sejumlah 28.[15]
a) Surat-surat Makkiyah menurut tertib turunnya
Dibawah
ini kami paparkan surat-surat Makkiyah menurut tertib turunnya berdasarkan
keterangan sebagian ulama.
|
1. Al ‘Alaq
2. Al Qalam
3. Al Muzammil
4. Al Muddatstie
5. Al Fatihah
6. Al Masad (Al Lahab)
7. Al Takwir
8. Al A’la
9. Al Lail
10. Al Fajr
11. Adh dhuha
12. Asy Syarah (Al Insyiroh)
13. Al Ashr
14. Al ‘Adiyat
15. Al Kaustar
16. At Takatsur
17. Al Maun
18. Al Kafirun
19. Al Fill
|
20. Falaq
21. An Nas
22. Al Ikhlas
23. An Najm
24. ‘Abasa
25. Al Qadar
26. Asy Syamsu
27. Al Buruj
28. At Tin
29. Al Quraish
30. Al Qari’ah
31. Al Qiyamah
32. Al Humazah
33. Al Mursalah
34. Qaf
35. Al Balad
36. Ath Thariq
37. Al Qamar
38. Shad
|
|
39. Al A’raf
40. Al Jin
41. Yasin
42. Al Furqan
43. Fathir
44. Maryam
45. Thaha
46. Al Waqiah
47. Asy Syu’ara
48. An Naml
49. Al Qashash
50. Al Isra’
51. Yunus
52. Hud
53. Yusuf
54. Al Hijr
55. Al An’am
56. Ash Shaffat
57. Luqman
58. Saba
59. Az Zumar
60. Ghafir
61. Fushshilat
62. Asy Syura
|
63. Az Zukhruf
64. Ad Dukhan
65. Al Jaatsiah
66. Al Ahqaf
67. Adz Dzariyat
68. Al Ghasyiyah
69. Al Kafh
70. An Nahl
71. Nuh
72. Ibrahim
73. Al Anbiya
74. Al Mu’minun
75. As Sajdah
76. Ath Thur
77. Al Mulk
78. Al Haqqah
79. Al Ma’arij
80. An Naba
81. An Naziat
82. Al Infithar
83. Al Insyiqaq
84. Ar Rum
85. Al Ankabut
86. Al Muthafifin (Tathfif)
|
Sebagian ahli
tafsir berkata: surat Tafhfif itulah surat paling penghabisan turun di Mekkah.
Menurut
Al Khudlary, selain dari surat-surat yang tersebut masu juga dalam golongan
surat-surat Makkiyah surat yang tersebut di bawah ibnu :
87. Az Zalzalah
88. Ar Rad
89. Ar Rahman
90. Al Insan
91. Al Bayyinah
Surat-surat
yang lima buah ini setengah ulama memasukkannya ke dalam bagian Madaniyah.[16]
b) Surat-surat Madaniyah, menurut tertib turunnya ialah :
|
1. Al Baqarah
2. An Anfal
3. Ali Imran
4. Al Ahzab
5. Al Mumtahanah
6. An Nisa
7. Al Hadid
|
8. Al Qital
9. Ath Thalaq
10. Al Hasyar
11. An Nur
12. An Nur
13. Al Haj
14. Al Munafiqun
|
15. Al Hujurat
16. At Tahrim
17. At Taghabun
18. Ash Shaf
19. Al Jumu’ah
20. Al Fat-hu
21. Al Maidah
22. At Taubah
23. An Nashr
Jika kita
turuti pendapat sebagian ahli tafsir yang menetapkan bahwa surat-surat yang
turun di Madinah sejumlah 28, tambahan atas 23 ini, lima surat yaitu :
1. Al Zalzalah
2. Ar Rad
3. Ar Rahman
4. Al Insan
5. Al Bayyinah
Kata Ibnu
Hashshar dalam kitab An Nasikh wal Mansukh : surat yang disepakati
turunnya di Madinah sejumlah 20 surat,
yaitu:
|
1. Al Baqarah
2. Ali Imran
3. An Nisa
4. Al Maidah
5. An Anfal
6. At Taubah
7. An Nur
8. Al Ahzab
9. Muhammad
10. Al Fat-hu
|
11. Al Hujurat
12. Al Hadid
13. Al Mujadalah
14. Al Hasyr
15. Al Mumtahanah
16. Al Jum’ah
17. Al Munafiqun
18. Ath Thalaq
19. At Tahrim
20. An Nashr[17]
|
Surat-surat
yang diperselisihi sejumlah 11 surat, yaitu :
|
1. Al Fatihah
2. Ar Ra’du
3. Ar Rahman
4. Ash Shaf
5. At-Taghbun
6. At Tathfif
|
7. Al Qadar
8. Al Bayyinah
9. Az Zalzalah
10. Al Ikhlas
11. Al Mu’auwiyadzatani (Al Falaq, An Nas)
|
Selain
dari ayat tersebut, disepakati turunnyadi Makkah, yaitu sejumlah 82 ayat.[18]
D. Ayat-ayat yang
Turun di Madinah, dan Hukumnya Makiyyah’z
1. Al-Mumtahanah
2. Ayat 41 surah Al-Nahl
Surah
Al-Mumtahanah turun ketika Rasulullah hendak berangkat menuju Mekah menjelang Fatuh Mekah. Ini terjadi setelah hijrah.
Kisahnya sebagai berikut: Mengetahui Rasulullah Saw. Hendak berangkat ke Mekah,
seorang yang bernama Hattab bin Abi Balta’ah menulis surat untuk disampaikan
kepada orang Quraisy di Mekah. Isi surat itu menginformasikan rencana
Rasulullah Saw. Dan kaum muslimin yang akan berangkat ke kota yang disebut
paling terakhir.[19]
Entah
mengapa Al-Zarkasvi mengklasifikasikan ayat-ayat ini sebagai Makkiyah. Ia tedak menjelaskan
alasannya. Ada kemungkinan, penulis kitab Al-Burhan
fi ‘Ulum Al-Qur’an ini sepakat dengan pendapat yang mengatakan ayat Makiyyah adalah ayat-ayat yang khithab-nya ditujukan kepada penduduk
Mekah.[20]
Bila
melihat kasus ayat 41 surah Al-Nahl, tampaknya kemungkinan itu benar, sebab
Al-Zarkasyi juga memasukkan ayat yang turun setelah hijrah ini sebagai ayat Madaniyah yang hukumnya Makkiyah, oleh karena khithab-nya ditujukan kepada penduduk Mekah.
3. Awal surah Al-Taubah sampai dengan ayat 28. Ayat-ayat ini
sesungguhnya Madaniyah, tetapi khithab-nya ditujukan kepada penduduk
Mekah.
Makkiyah Mirip Madaniyah
Pada
pembahasan sebelumnya telah disinggung kasus ayat 32 Surah Al-Najm. Di sana ada
kata “jjjj” yang statusnya bisa jadi membingungkan banyak orang karena hampir
semua ulama mendefinisikan sebagai: “Pelanggaran hukum yang mengakibatkan had”. Padahal sebelum Rasulullah Saw.
Meninggalkan Mekah menuju Madinah untuk berhijrah, hukuman itu belum dikenal.
Ayat-ayat seperti inilah yang disebut Makkiyah
mirip Madaniyah. Al-Zarkasyi
memasukkan ayat 114 surah Hud ke dalam kategori ayat jenis ini. Ayat tersebut,
kata Al-Zarkasyi, turun berhubungan dengan Abu Muqabbal Al-Husain Umar bin Qais
dan seorang wanita yang membeli kurma kepadanya.
Madaniyah mirip Makkiyah
Merujuk pada kitab Al-Burhan fi ‘Ulum Al-Qur’an, materi di
seputar Makkiyah dan Madaniyah terbilang lengkap. Di dalam
kitab itu, hanya ada tiga ayat Madaniyah
yang mirip Makkiyah yaitu.
1. Ayat 17 surah Al-Anbiya’, yang turun sehubungan dengan kedatangan
delegasi kaum Nasrani Najran.
2. Ayat 1 surah Al-‘Adiyat.
3. Ayat 32 surah Al-Anfal.
Selain
itu, terdapat ayat-ayat yang turun di beberapa tempat. Di Al-Juhfah, turun ayat
85 surah Al-Qashash; di Bait Al-Maqdis, Palestina, turun ayat 45 surah
Al-Zukhruf; di Thaif, turun ayat 45 surah Al-Furqan dan ayat 22, 23, dan 24 surah Al-Insyiqaq; dan di Hudaibiyah,
turun ayat 30 surah Al-Ra’d.[21]
Ayat-ayat yang
Turun pada Malam Hari
Tidak banyak
yang dicatat dalam Al-Burhan fi ‘Ulum
Al-Quran tentang ayat yang turun pada malam hari. Hanya ada tiga buah,
yaitu:
1. Ayat 1 surah Al-Hajj. Ayat ini turun ketika terjadi peperangan Bani
Al-Mushthaliq;
2. Ayat 67 surah Al-Maidah;
3. Ayat 56 surah Al-Qashash.
Selain
ayat-ayat yang dituturkan Al-Zarkasyi dalam kitab Al-Burhan fi ‘Ulum Al-Quran-nya seperti disebut di atas, Amir Abdul
Aziz menambahkan beberapa ayat lagi yang turun pada waktu malam, yaitu:
1. Ayat 190 s.d. akhir surah Ali Imran, yang berarti keseluruhannya
berjumlah 10 ayat. Diriwayatkan, bahwa suatu malam Bilal hendak mengumandangkan
adzan subuh. Sebelum itu ia mendapati Rasulullah Saw, tengah menangis. Bilal
langsung menanyakan, apa gerangan yang telah membuat Rasulullah menangis? Rasul
Saw. Menjawab; “Apa yang menghalangiku untuk menangis? Baru saja diturunkan
kepadaku malam ini (Rasulullah Saw. Lalu membacakan ayat 90 surah Ali Imran
sampai dengan akhir surah itu). Usai membacakan ayat-ayat yang baru saja beliau
terima, Rasulullah kemudian mengatakan kepada Bilal: “Celakalah bagi orang yang
membacanya, tetapi tidak memikirkannya”.
2. Surah Al-An’am. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, berkata: “Surah
Al-An’am turun di Mekah sekaligus pada malam hari, dikawal seribu malaikat
dengan mengumandangkan tasbih.
3. Surah Maryam. Diriwayatkan dari Abu Maryam Al-Ghassaniy, berkata:
“Aku pernah mendatangi Rasulullah Saw.,
lalu kukatakan, aku punya tetangga yang malam ini melahirkan bayi wanita,
beliau (Rasulullah Saw.) lalu mengatakan, “Malam ini diturunkan kepadaku surah
Maryam, berilah dia nama Maryam.”
Ayat-ayat yang
Turun pada Musim Dingin
1.
Aisyah pernah
mengatakan bahwa ayat 11 surah Al-Nur yang sebab
nuzul-nya berkaitan dengan dirinya diturunkan pada musim dingin.
2.
Ayat 9 surah
Al-Ahzab. Khudzaifah meriwayatkan, pada malam Al-Ahzab, orang-orang berpencar
dengan Rasulullah Saw., kecuali 12 orang. Rasulullah Saw, datang dan mengatakan
kepada mereka, “Bangkitlah dan berangkatlah ke kamp Al-Ahzab.” Kutanyakan: “Wahai Rasulullah, demi dzat
yang telah mengutusmu dengan benar, saya
tidak melakukan untukmu kecuali karena takut kedinginan.
Lalu turunlah ayat 9 surah Al-Ahzab dan ayat yang sesudahnya.[22]
Ayat-ayat yang
Turun di Perjalanan
1. Ayat 281 surah Al-Baqarah, turun di Mina pada tahun terjadinya Haji
Wada’.
2. Ayat 58 surah Al-Nisa’. Ayat ini turun kepada Nabi Muhammad Saw.
Pada hari futuh saat beliau berada di
Ka’bah.
3. Ayat 176 surah Al-Nisa’.
4. Ayat 3 surah Al-Ma’idah, turun di Arafah pada waktu Haji Wada’.
Ayat-ayat yang
Turun Musyayya’
Musyayya’
artinya diiringi, dikawal, dan diantar. Ada beberapa ayat Alquranyang ketika
turun dikawal sejumlah malaikat sebagai penghormatan. Ayat-ayat yang ketika
turun diperlakukan seperti itu disebut, “ayat musyayya”.
Ayat-ayat atau
surah-surah tersebut adalah:
1. Al-Fatihah. Surah ini ketika turun dikawal 30.000 malaikat.
2. Ayat Kursiy, ketika turun dikawal 30.000 malaikat.
3. Surah Yunus. Surah ini ketika turun dikawal 70.000 malaikat.
4. Surah Al-An’am. Dikawal 20.000 malaikta.
5. Ayat 45 surah Al-Zukhruf, turun dikawal 20.000 malaikat.
Tentang
riwayat pengawalan oleh 70.000 malaikat ketika turun surah Yunus yang merujuk
pada apa yang disebut Abu ‘Amar bin Shalah dalam fatwanya dengan sumber dari
Ubai bin Ka’ab, oleh Al-Zarkasyi dinilai berisnad
lemah. Kebanyakan ayat Al-Quran dibawa Jibril sendiri tanpa pengawalan,
demikian menurut Al-Zarkasyi.[23]
Cara Mengetahui
Makkiyah dan Madaniyah
Studi Makkiyah adalah studi sejarah, studi sirah, dan studi tentang kejadian tertentu yang memerlukan
penyaksian langsung. Oleh karena itu, tidak ada jalan lain yang dapat membantu
di dalam memahami ayat-ayat mana saja yang terbilang Makkiyah dan ayat-ayat mana saja yang termasuk Madaniyah, kecuali riwayat dari para sahabat Rasulullah Saw. Karena
merekalah yang mengikuti perjalanan hidup Rasulullah Saw. Baik di Mekah maupun
di Madinah. Dari segi sumbernya, Makkiyah
dan Madaniyah sama saja dengan sabab Nuzul, artinya Makkiyah maupun Madaniyah hanya dapat diketahui melalui riwayat demi riwayat yang
diturunkan secara estafet dari satu generasi ke generasi berikutnya sebelum
kemudian dibukukan atau ditulis dalam suatu bentuk catatan. Sekalipun demikian,
ada semacam “isyarat-isyarat” yang bisa ditangkap untuk membedakan ayat Makkiyah dengan ayat Madaniyah. Isyarat-isyarat yang biasa
disebut dhawabith itu adalah itu
adalah sebagai berikut.
Ciri-ciri Surah
Makkiyah
1. Terdapat kata kalla di
sebagian besar atau seluruh ayatnya.
2. Terdapat sujud tilawah di sebagian atau seluruh ayat-ayatnya.
3. Diawali huruf tahajji
seperti qaf, nun dan ha mim.
4. Memuat kisah Adam dan Iblis (kecuali surah Al-Baqarah).
5. Memuat kisah para Nabi dan Umat-umat terdahulu.
6. Di dalamnya terdapat khithab
(seruan) kepada semua manusia (wahai
semua manusia).
7. Menyeru dengan kalimat “Anak Adam”.
8. Isinya memberi penekanan pada masalah akidah.
9. Ayatnya pendek-pendek.
Ciri-ciri Surah
Madaniyah
1. Terdapat kalimat “orang-orang yang beriman” pada ayat-ayatnya.
2. Terdapat hokum-hukum faraidl,
hudud, qihahsh dan jihad.
3. Menyebut “orang-orang munafik” (kecuali Al-Ankabut).
4. Memuat bantahan terhadap Ahlu
Al-Kitab (Yahudi dan Nasrani).
5. Memuat hokum syara’,
seperti ibadah, mu’amalah dan Al-ahwal Al-Syakhshiyah.
6. Ayatnya panjang-panjang.[24]
Keistimewaan Surat-Surat Makkiyah dan Madaniyah
Diantara keistimewaan-keistimewaan surat Makkiyah, dapat
dikemukakan:
1. Pembekalan aqidah Islam dalam jiwa
memalui ajakan beribadah kepada Allah Yang Esa, beriman kepada risalah Muhammad
SAW dan kepada hari Akhir.
2. Penetapan dasar-dasar ibadah dan muammalah dan
etika keutamaan-keutamaan umum.
3. Perhatian terhadap rincian
kisah-kisah para Nabi dan ummat-ummat terdahulu, menjelaskan tentang ajakan
para Nabi yang berupa aqidah dan sikap-sikap ummat mereka terhadap azab-azab
yang di bumi.
4. Surat-surat dan ayat-ayat yang
dibarengi dengan kuatnya pilihan diksi dan peristiwa (yang dihadirkan kiamat).[25]
Adapun
keistimewaan yang terdapat pada surat Madaniyyah, antara lain adalah:
1. Alquranberbicara kepada masyarakat Islam Madinah, pada
umumnya berisi tentang penetapan hukum-hukum syariah, ibadah dan muamalah,
sanksi-sanksi, kewajiban-kewajiban, hukum jihad, dan lain-lain.
2. 8.2. Didalam masyarakat Madinah
tumbuh sekelompok orang munafiq, lalu Al-Qur’an membicarakan sifat-sifat
2. Mereka dan menguak rahasia mereka. Alquranmenjelaskan bahaya mereka terhadap Islam dan kaum Muslimin serta
membeberkan media-media, tipuan-tipuan, serta strategi mereka untuk memperdaya
kaum Muslimin.
3. Diantara orang-orang Islam di
Madinah, hiduplah sekelompok ahli kitab bangsa Yahudi. Mereka selalu melakukan
perbuatan licik, memperdaya Islam dan pemeluknya. Maka Alqurandi Madinah membeberkan rahasia-rahasia mereka dan membatalkan
keyakinan-keyakinan mereka.
4. Pada umumnya, ayat-ayat dan
surat-suratnya panjang dan untuk menggambarkan luasnya aqidah dan hukum-hukum
Islam.[26]
D.
Faedah
Mengetahui Makkiyah dan Madaniyah
Pengetahuan
tentang Makki dan Madani banyak faedahnya, diantaranya:
1. Untuk dijadikan alat bantu dalam menafsirkan Qur’an, sebab
pengetahuan mengenai tempat turun ayat yang dapat membantu memahami ayat
tersebut danmenafsirkannya dengan tafsiran yang benar, sekalipun yang menjadi
pegangan adalah pengertian umum lafadz, bukan sebab yang khusus. Berdasarkan
hal itu seorang pennafsir dapat membedakan antara ayat yang nasikh dengan yang
mansukh bila di antara kedua ayat terdapat makna yang kontradiktif. Yang datang
kemudian tentu merupakan nasikh atas terdahulu.
2. Meresapi gaya bahasa Qur’an dan memanfaatkannya dalam metode
nerdakwah menuju jalan Allah, sebab setiap situasi mempunyai bahasa tersendiri.
Memperhatikan apa yang dikehendaki oleh situasi, merupakan arti paling khusus
dalam ilmu retorika. Karakteristik gaya bahasa Makki dan Madani dalam Alquran
pun memberikan kepada orang yang mempelajarinya sebuah metode dalam penyampaian
dakwah ke jalan Allah yang sesuai dengan kejiwaan lawan berbicara dan menguasai
pikiran dan perasaannya serta mengatasi apa yang ada dalam dirinya dengan penuh
kebijaksanaan. Setiap tahapan dakwah mempunyai topik dan pola penyampaian tersendiri.
Pola penyampaian itu berbeda-beda, sesuai dengan perbedaan tata cara, keyakinan
dan kondisi lingkungan. Hal yang demikian nampak jelas dalam berbagai cara
Qur’an menyeru berbagai golongan: orang yang beriman, yang musyrik, yang
munafik, dan Ahli Kitab
3. Mengetahui sejarah hidup Nabi melalui ayat-ayat Qur’an, sebab
turunnya wahyu kepada Rasulullah sejalan dengan sejarah dakwah dengan segala
peristiwanya, baik pada periode Mekah maupin periode Medinah, sejak permulaan
turun wahyu hingga ayat terakhir diturunkan. Qur’an adalah sumber pokok bagi
peri hidup Rasulullah. Peri hidup beliau yang diriwayatkan ahli sejarah harus
sesuai dengan Qur’an; dan Qur’an; dan Qur’an pun memberikan kata putus terhadap
perbedaan riwayat yang mereka riwayatkan.[27]
E. Penutup
Dari uraian diatas dapat disimpulkan
sebagai berikut: Pertama, dari beberapa pendapat ulama tentang makkiyah dan
madaniyah. Satu konsep yang diambil garis besarnya yakni pengertian makkiyah
dan madaniyah yang pengklasifikannya berdasarkan 1)waktu 2)tempat dan 3)khitabnya.
Kedua, Jumlah turun surat yang di turunkan di Mekkah ada 86 surat dan yang di
Madinah ada 28 surat. Ketiga, Al-Quran merupakan kalam ilahi yang menjadikannya
penting dari sisi agama maupun ilmu pengetahuan, dan kita selaku umat islam
seyogyanya menyadari dengan hal tersebut seberapa penting kita memahami Alqurandari berbagai
aspek karena “manusia terbaik di sisi Allah SWT adalah manusia yang mempelajari
Alqurandan
mengamalkannya”. Salah satu aspek penting mempelajari Alquranialah
mengetahui mana surah atau ayat Makiyyah dan juga mana yang Madaniyah penting
tidaknya seorang yang muslim mengetahuinya yang terpenting adalah usaha awal d
ari seorang muslim mempelajari Al-Quraan, dia harus mengetahui klasifikasi mana
surah dan ayat yang tergolong makkiyah maupun madaniyah. Dan yang
terakhir faedah dari mempelajari ayat makkiyah dan madaniyah ini adalah Untuk
dijadikan alat bantu dalam menafsirkan Qur’an, meresapi gaya bahasa Qur’an dan
memanfaatkannya dalam metode berdakwah menuju jalan Allah dan juga mengetahui
sejarah hidup Nabi melalui ayat-ayat Qur’an.
.
DAFTAR
PUSTAKA
Abd.Halim.2015. Perkembangan
Teori Makki dan Madani dalam Pandangan Ulama Klasik dan Kontemporer. Jurnal
Syadah: Yogyakarta
Anshory, Anhar.
2012. Pengantar Ulumul Quran. LPSI:Yogyakarta.
Ash-Shiddieqy, Prof.T.M Hasbi. 1974.
Sejarah dan Pengantar Ilmu Al-Quran/Tafsir. Bulan Bintang: Jakarta
Az-zanjani, Abu Abdullah.Wawasan
Baru Tarikh Al-Quran. Penerbit Mizan
Dr Umi Sumbulah, M.Ag dkk. 2014.
Studi Al-Qur’an Dan Hadist. UIN Maliki Press:
Malang.
Hitami, Dr. Munzir, M.A. 2012. Pengantar Studi Al-Qur’an: Teori dan Pendekatan.
LKIS: Yogyakarta.
Novrianto,
Reno. 2014. Upaya
Menemukan Konsep Makiyyah dan Madaniyyah Pada Hadis. (SKRIPSI UIN Kalijaga:
Yogyakarta
MA, Kontekstualisasi Al-Qur’an.
2010. Jurnal Hunafa Vol. 7
Mudzakir AS.
Manna’ Khalil al-Qathan. 2015. Pustaka Litera Antar Nusa: Bogor
Mum’in, Zainul.
2013Teori Nasikh-Mansukh Sebagai Pembaharu Hukum Islam. (Skripsi UIN Sunan
kalijaga: Yogyakarta
[1] Munzir Hitami,
Pengantar Studi Al-Qur’an: Teori dan
Pendekatan( LKIS Yogyakarta, 2012) Hal 1
[2]T.M Hasbi
Ash-Shiddieqy, Sejarah dan Pengantar Ilmu Al-Quran/Tafsir,(Bulan
Bintang, Jakarta, 1974) Hal 15-16
[3]Abu Abdullah
Az-zanjani, Wawasan Baru Tarikh Al-Quran, (Penerbit Mizan, Jakarta) Hal
51
[4]Zainul Mum’in. Teori
Nasikh-Mansukh Sebagai Pembaharu Hukum Islam. (Yogyakarta,SkripsiUIN
Sunan kalijaga 2013) hal 1
[5]Abd.Halim,
Perkembangan Teori Makki dan Madani dalam Pandangan Ulama Klasik dan
Kontemporer (Yogyakarta;Jurnal Syadah. 2015) Vol. III
Hal 3
[7]Nama lengkapnya Jalaluddin al-Suyuti (849 H-w.911),
pengarang kitab al-Itqanfi ‘Ulum al-Qur’an. karya Az-Zarkazi dan al-Suyuti
ini menjadi rujukan para ulamasetelahnya dalam kajian al-Qur’an
[8]MA, Kontekstualisasi
Al-Qur’an, Jurnal Hunafa, Vol. 7, No.1, April 2010:61-68
[9]Abd.Halim,
“Perkembangan Teori Makki dan Madani dalam Pandangan Ulama Klasik dan
Kontemporer”(Yogyakarta,Jurnal Syadah, 2015) Vol. III
hal.5
[13]Reno Novrianto. Upaya Menemukan Konsep Makiyyah dan Madaniyyah
Pada Hadis
(Yogyakarta, Skripsi UIN Kalijaga, 2014) hal 95
[14]T.M Hasbi
Ash-Shiddieqy, Sejarah dan Pengantar Ilmu Al-Quran/Tafsir, (Jakart,aBulan
Bintang, 1974) hal 61
[19]Umi Sumbulah
dkk, Studi Al-Qur’an Dan Hadist, (Malang, UIN Maliki Press,2014) hal 148
[20]Ibid. Hal 149
[21]Ibid. Hal 150
[25]Anhar Anshory.
2012. Pengantar Ulumul Quran. (Yogyakarta, LPSI) Hal 30
[27]Mudzakir AS.
Manna’ Khalil al-Qathan, (Bogor, Pustaka Litera Antar Nusa, 2015) hal 79
Tidak ada komentar:
Posting Komentar