Jumat, 03 Agustus 2018

ISLAM PERIODE MODERNISASI

ISLAM PERIODE MODERNISASI

Oleh : Sharvina Salsabilla (16110056)

Periode modern merupakan zaman kebangkitan Islam. Umat Islam mengalamikemunduran dalam bidang pendidikan, perkembangan IPTEK, sosial dan bidang-bidang lain terkait dengan politik dan budaya pada masa pertengahan abad. Periode ini dikenal dengan zaman pembaharuan. Kata “pembaharuan”identik dengan modernisasi yang lahir di dunia Barat.[1]
Gerakan Modern Islam atau yang biasa disebut dengan Pembaharuan dalam Islam menjadi permasalahan yang dihadapi oleh umat Islam pada masa ini. Kemunduran Kerajaan Usmani yang merupakan pemangku khilafah Islam, setelah abad ke 17, yang telah melahirkan kebangkitan Islam dikalangan Arab yang dipinggiran imperium. Yang diantaranya yaitu gerakan Wahabi, merupakan sebuah gerakan  reformis puritanis (Salafiyyah).[2]Gerakan ini menjadi sarana untuk menyiapkan jembatan kearah pembaruan Islam abad ke-20 yang bersifat intelektual.
Jamaluddin Al-Afghani merupakan tokoh yang sangat terkenal dalam gerakan pembaharuan ini. Ia mengajarkan solidaritas antar sesama umat Islam dan pertahanan terhadap imperialisme Eropa, dengan kembali kepada Islam dalam suasana yang secara ilmiah dimodernisasi. Gerakan yang lahir di Timur Tengah telah memberi pengaruh besar dalam gerakan kebangkitan Islam, salah satunya di Indonesia.[3]
Tokoh-tokoh utama lain dalam pembaharu islam terdiri dari Jalaluddin Al-Afghani (1839-1897), Muhammad Abduh (1849-), dan Rasyid Ridla (1865-). Pembaharu ini muncul disaat umat Islam sadar bahwa mereka jauh tertingga; dari bangsa Eropa (dalam hal ini diidentikkan dengan umat nasrani) dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi.
Pemikiran ini muncul saat masa senja imperium Ottoman di Turki. Turki terkenal dengan pintu masuk menuju Eropa. Maka dari itu mereka pasti tahu perkembangan yang sedang berlangsung di Eropa. Oleh karena itu, latar belakang dari (kesadaran) pembaharuan karena kontak langsung yang terjadi antara masyarakat muslim (Ottoman) dengan masyarakat Nasrani (Eropa). Sehingga dapat digaris bawahi bahwa umat islam harus memperbaiki dan kalangan umat Islam yang progresif menganggap bahwa Islam berada pada masa kegelapannya.
Tujuan dalam pembaharuan Islam yaitu untuk membawa umat Islam kepada kemajuan. Karena pada periode pertengahan ini umat Islam tertinggal jauh di belakang peradaban Barat. Salah satunya adalah ekspedisi Napoleon Bonaparte di Mesir yang berakhir tahu 1801 M dan membuka mata dunia Islam. Kaum muslimin di Turki dan Mesir mengetahui akan kemunduran dan kelemahan umat Islam, baik dalam kemajuan dan kekuatan Barat.
Mesir merupakan salah satu tempat lahirnya manusia, sebelum orang mengenal sejarah tertulis. Peradaban ini berkembang sekitar 5000 hingga 3100 SM. Meskipun hanya dalam waktu tiga tahun dari tahun 1798-1801 M, Napoleon menguasi Mesir dan pengaruh yang ditinggalkan sangat besar dalam kehidupan bangsa Mesir. Seperti dua set alat percetakan ( alat cetak Bahasa Arab dan Bahasa Latin ). Disamping itu pula 600 orang sipil yang diantaranya terdapat 167 pakar ilmuan-ilmuan yang ahli dalam berbagai disiplin ilmu.
Sebuah lembaga pendidikan yaitu Institut de Egypte yang di dalamnya terdapat empat bidang pengetahuan yaitu; ilmu pasti, ilmu alam, ekonomi, politik dan seni sastra. Institut de Egypte juga boleh dikunjungi oleh mayarakat Mesir yang ingin menimba ilmu. Dari Institut inilah terjadi persentuhan budaya atau peradaban dan agama.
Masyarakat Mesir yang menganut agama Islam pertama kalinya dapat berkontak langsung dengan orang Eropa. Institut de Egypte juga memiliki peralatan modern yang canggih seperti mikroskop, teleskop atau alat percobaan lainnya serta ketekunan dan kesungguhan kerja orang Perancis, merupakan hal yang asing dan menakjubkan bagi masyarakat Mesir pada masa itu.
Sedangkan pada zaman modern ini, keadaan menjadi berlawanan. Justru umat Islam yang ingin belajar dari Barat karena kemajuan bangsa Barat dalam ilmu pengetahuan, IPTEKdan peradabannya. Potret ”keluguan”sekaligus ketertinggalan umat muslim sebagai dimaksud jelas menyerukan bangkitnya kesadaran bahwa keadaan umat Islam sudah demikian tertinggal jauh di belakang peradaban Barat. Hubungan Islam dengan Barat sangat berlainan antara hubungan  Islam dengan Barat ketika periode klasik.[4]

Dengan demikian, muncullah apa yang disebut pemikiran dan aliran pembaharuan atau modernisasi dalam Islam. Para pemuka Islam kembali mengeluarkan pemikirannya bagaimana caranya membuat umat Islam kembali maju sebagaimana pada periode klasik. Artinya mereka berusaha menggerakkan umat Islam untuk memperbaharui kehidupan serta mendorong mereka untuk mengusir dominasi kekuatan asing di negeri-negeri Islam.

Selanjutnya, aspek pendukung bagi perkembangan peradaban Islam modern dan kontemporer di kawasan Timur Tengah dan Kawasan Timur, diantaranya adalah aspek budaya, aspek sosial, aspek ekonomi, dan aspek politik. Diantara negara-negara yang mengalami perkembangan peradaban dalam kategori modern dan kontemporer adalah Turki, India, Iran dan kawasan sekitarnya.
·  Baghdad
Kota Baghdad didirikan oleh khalifah Abbasiyyah II, al-Manshur (754-755 M), pada tahun 762 M. Selanjutnya, aspek pendukung bagi perkembangan peradaban Islam modern dan kontemporer di kawasan Timur Tengah dan Kawasan Timur, diantaranya adalah aspek budaya, aspek sosial, aspek ekonomi, dan aspek politik. Diantara negara-negara yang mengalami perkembangan peradaban dalam kategori modern dan kontemporer adalah Turki, India, Iran dan kawasan sekitarnya.
·  Kairo (Mesir)
Kota Kairo dibangun pada tanggal 17 Sya’ban 358 H/ 969 M oleh panglima perang dinasti Fathimiyah, Jawhar al-Siqili, atas perintah khalifah Fathimiyah,al-Mu’izz li Dienillah (953-975 M), sebagai ibu kota kerajaan dinasti tersebut. Wilayah kekuasaan dinasti Fathimiyah meliputi Afrika Utara, Sicilia, dan Syiria. Berdirinya kota Kairo sebagai ibu kota kerajaan dinasti ini membuat Baghdad mendapat saingan. Setelah pembangunan kota Kairo selesai lengkap dengan istanamya, al-Siqili mendirikan masjid al-Azhar pada 17 Ramadhan 359 H (970 M). Masjid ini berkembang menjadi sebuah universitas besar sampai sekarang masih berdiri megah.
·  Ishfahan (Persia)
Ishfahan adalah kota terkenal di Persia, pernah menjadi ibu kota kerajaan Safawiyah. Persia memiliki ciri-ciri kebudayaan seperti arsitektur dan kesenian yang sangat khas sehingga mampu digunakan sebagai alat dalam penyebaran serta pengembangan agama Islam pada periode Islam modern dan kontemporer. Pengelompokkan keagamaan di Persia banyak mendapat perhatian dari pihak Arab karena sistematika pengelompokkannya sangat baik dan praktis dengan menggunakan dua corak kehidupan, Syiah dan Sunni.
·  Turki
Pada tahun 2000 muncul cendikiawan muslim yang bernama Harun Yahya yang mampu melakukan perlawanan terhadap sekularisme melalui beberapa pemikiran dan dalam bidang yang lain. Ini merupakan fenomena baru bagi penduduk Turki dalam abad modern dan kontemporer.[5]

DAFTAR PUSTAKA
Nasution, Harun. 1975. Pembaharuan dalam Islam. Jakarta: Bulan Bintang.
Munir, Samsul Amin. 2009. Sejarah Peradaban Islam. Jakarta: Amzah.
Yatim,Badri.1993. Sejarah Peradaban Islam.Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Sani,Abdul.1998. Lintas Sejarah Pemikiran Perkembangan Modern Dalam Islam. Jakarta:
Raja Grafindo Persada.
Khalil, Muhammad.2016. Sejarah Kebudayaan Islam. Jakarta:Kementrian Agama.



[1]Samsul Munir Amin, Sejarah Peradaban Islam, (Jakarta: Amzah, 2009), hlm. 45
[2]Harun Nasution, Pembaharuan dalam Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1975), hlm. 23
[3]Dr. Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 1993),  hlm. 257
[4]Abdul Sani, Lintas Sejarah Pemikiran Perkembangan Modern Dalam Islam (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1998), hlm. 27
[5]Muhammad Khalil, Sejarah Kebudayaan Islam (Jakarta:Kementrian Agama, 2016), hlm 188-193

PERKEMBANGAN KEBUDAYAAN DINASTI AYYUBIYA

PERKEMBANGAN KEBUDAYAAN DINASTI AYYUBIYA

Oleh: Afifatud Diana Sari (16110054)

Dinasti Ayyubiyah didirikan oleh Salahuddin al-Ayyubi yang penamaannya dinisbatkan dari nama belakang pendirinya dan diambil dari nama kakeknya yaitu Ayyub. Beliau dilahirkan di Tikrit tepi sungai Tigris, pada 532 H dan berasal dari suku Kurdi.[1] Beliau juga berhasil mendirikan kesultanan yang bermazhab Sunni, yang telah menggantikan Dinasti Fatimiyah yang bermazhab Syi’ah. Selain itu, berdirinya dinasti Ayyubiyah ini membawa kebaikan bagi umat Islam, karena telah banyak mencetak sejara akan berjasanya dalam membela tanah muslim dari serangan para tentara perang Salib dan berhasilnya dalam membangun kekuasaan Islam.[2]
Pusat dinasti Ayyubiyah berpusat di Kairo, Mesir dengan wilayah kekuasaannya meliputi kawasan Mesir, Suriah, dan Yaman. Dinasti ini berdiri pada tahun (569 H/1174M-650 H/1252 M).[3]Masa dinasti Ayyubiyah ini ada sebuah perisiwa penting yaitu terjadinya perang Salib (1095 M-1291 M)[4] yang mempunyai banyak dampak salah satu yaitu, para pasukan Salib dapat berkenalan dengan kebudayaan Islam yang pada saat itu Islam sudah sangat maju,terutama pada bidang ilmu pengetahuan. Sehingga banyak orang Barat yang kemudian berdatangan ke Timur untuk belajar dan menimba ilmu dan kemudian mereka menyebar luaskan di Eropa.[5]
Dalam bidang kebudayaan dinasti Ayyubiyah bisa dianalisis saat berlangsungnya perang Salib yang telah terjadinya proses interaksi antar budaya, yaitu antar budaya Barat dan Timur. Dengan adanya interaksi antar budaya tersebut ternyata lebih banyak menguntungkan budaya Barat (Kristen) daripada budaya Timur (Islam) itu sendiri. Diantara aspek-aspek kebudayaan yang sangat berpengaruh terhadap orang Barat (Kristen) yaitu pada bidang seni, perdagangan, dan industri. Bahkan di Suriah yang merupakan salah satu pusat peradaban Islam, lebih memihak yang sana dan mereka tinggalkan dalam keadaan yang hancur.[6]
Pada masa kepemimpinan Nuruddin, beliau telah melakukan renovasi seperti pada dinding-dinding pertahanan kota, tidak hanya itu beliau juga telah menambah beberapa pintu gerbang dan menara di kota, serta membangun gedung-gedung pemerintahan yang masih bisa digunakan hinga saat ini. Akan tetapi beliau juga mendirikan sekolah yang pertama di Damaskus,[7] kemudian dipersembahkan untuk perkembangan ilmu-ilmu hadits, membangun rumah sakit yang terkenal dan memakai nama rumah sakit dengan namanya sendiri yaitu al-Nuri yang tidak hanya berfungsi sebagai tempat pengobatan, akan tetapi sebagai sekolah Kedokteran,[8] dan mendirikan tempat belajar (madrasah) pertama sejak masa kekuasaannya yang terus bekembang dan menyebar keseluruh pelosok Suriah.
Madrasah yang telah dibagun itu merupakan tempat tempat yang tidak dapat dipisahkan antara masjid dan sekolah. Madrasah tersebut secara otomatis telah menerima murid-murid dan mengikuti model-model pembelajaran yang telah dikembangkan oleh Nizhamiyah.  Madrasah yang telah didirikan oleh Nuruddin di Aleppo (Halb), Emessa, Hamah, dan Ba’labah, semuanya telah menganut mazhab Syafi’i.[9]
Pada masa Nuruddin terdapat prsasti yang pada bangunan-bangunan dan monumen-monumen lainnya yang kemduian mempunyai daya tarik tersendiri bagi ahli paleografi (ahli ilmu tulisan kuno) Arab. Karena sejak masa kekuasaannyalah yang diperkirakan kaligrafi Arab dengan gaya Kufi mulai muncul dan berkembang. Kaligrafi (khat) ala Kufi ada perubahan dan diganti dengan gaya tulisan Naskhi yang melimgkar-lingkar. Seperti halnya prasasti yang terdapat di menara barat benteng Aleppo (Halb) yang sampai saat ini masih bisa dibaca. Dengan adanya parasati tersebut yang terdapat dalam catatan Suriah dan Hittiyah yang menganggap bahwa itu merupakan sebuah mahakarya dalam bidang arsitektur yang berhutag besar terhadap Sultan Suriah yang telah besedia merenovasi dan memeliharanya. Dengan melalui semacam itulah kemudian tercipta sebua konsep mausoleum (makam orang-orang terkenal yang terdapat di Eropa) yang berhubungan dengan masjid Suriah.[10]
Pada masa kepemimpinan Salahuddin al-Ayyubi merupakan seorang khalifah yang banyak mencurahkan secara lebih keperhatiannya terhadap bidang pendidikan dan arsitektur daripada bidang yang lainnya. Seperti halnya kebijakan utama pemerintahan yang dikeluarkan adalah menyerang Syi’ah dan melarang melakukan bid’ah, serta menghabisi pendukung-pendukung dinasti Fatimiyah dengan melalui pengembangan lembaga pendidikan.
Dalam seni arsitektur Suriah yang saat itu dipimpin oleh Ayyubiyah dengan memperkenalkan seni Arab klasik dari timur yang mengambil gaya artistiknya pada bangunan-bangunan yang terdapat di Damaskus dan Aleppo yang didirikan pada abad ke-13. Seni tersebut masih dipakai di Mesir hingga pada nasa dinasti Mamluk yang telah berhasil membangun monumen indah dan menjadi salah satu kebanggaan tradisi kesnian Arab. Dengan menampilkan arsitektur yang solid dan kuat serta menggunakan bahan material yang bagus dan terpilih dan menggunakan dekorasi dengan motif-motif yang sederhana akan tetapi menyuguhkan nuansa keindahan yang tiada habisnya.
Para tentara salib mendapakatkan bekal pengetahuan mengenai bangunan militer dari Itali dan Normandia yang dikembangkan oleh orang-orang Arab sebagaiman yang terlihat dari arsitektur benteng Kairo. Kemudian mereka banyak meninggalkan bidang arsitektur berupa kastil, gereja dan beberapa ruangan berkubah. Arsitektur pada saat perang Salib umumnya berbentuk seperti kubus dengan gaya kubah yang sederhana dan peninggalan seni Franka yang paling indah yaitu pintu diambil dari gereja di Anka pada 1291 serta kemudian dipasang di Masjid al-Nashir.[11]
Dalam bidang pendidikan Salahuddin al-Ayyubi memperkenalan sekolah yang bersistem seperi madrasah di negeri Mesir dan Yarusalem. Salah satu madrasah yang dibagun oleh beliau adalah madrasah al-Shalahiyyah yang merupakan madrsasah terkemuka dengan menggunakan sistem seperti Medir yang terletak di Kairo. Disamping itu Salahuddin juga membangun dua rumah sakit di Kairo dengan menggunakan seni arsitektur mengikuti model rumah sakit Nuriah di Damaskus. Arsitektur rumah sakit tersebut juga mengikuti gaya masjid, akan tetapi tidak diketahui jejaknya.[12]
Perkembagan ilmu pengetahuan dan firlsafat mempunyai cukup banyak contoh yang konkret. Adelard dari Bath, yang mempunyai karya-karya yang diterjemahkan ke dalam Bahasa Arab, yaitu bidang geometrid an astronomi. Kemudian sekitar satu abad ahli Aljabar dari Eropa  yaitu Leonardo Fibonanci yang telah mempersembahkan sebuah karya tentang angka-angka kotak kepada Fredik II, setelah itu mengunjungi Mesir dan Suriah. Ada juga salah satu penduduk Pisa yaitu Stephen dari Antiokia yang menerjemahkan sebuah  buku yang sangat terpenting dalam dunia kedokteran yang karya tersebut merupakan buku satu-satunya berbahasa Arab dan kemudian dibawa oleh Franka ke negeri mereka sendiri yaitu karya al-Majusi di Antiokia pada 1127. Akan tetapi karya tersebut tidak ditemukan lagi di sejumlah tempat medis dan rumah sakit pada abad ke-12.
Sedangkan dalam bidang satra, pengaruh kebudayaan Arab di Barat sangat terasa. Disuguhkan beberapa kisah-kisah tentang legenda Grail Yang Suci mengandung unsur yang tidak diragukan lagi yaitu berasal dari rusia. Kemudian dilanjutkan pada tahun 1276 beliau mendirikan sebuah universitas khusus bagi para biarawan saja yang berasal dari Miramar yang bertujuan untuk mempelajari Bahasa Arab yang dikarena terdapat terpengaruh dari Konsili di Wina pada tahun 1311. Sehingga, mereka memutuskan untuk memberikan studi Bahasa Aran dan Tartar di Universitas Paris, Louvain, dan Salamanca.[13]
Perkembangan dalam bidang militer telah mengalihkan dunia, yaitu dengan penggunaan katapul, pemakaian baju zirah yang tebal oleh golongan kesatria dengan kudanya, serta menggunakan bantalan kapas di bawah baju perang, dan semua itu berasal dari perang Salib. Kemudian di Suriah orang Frangka banyak yang mengambil dalam penggunaan sangkakala perang, tambur dan gendering perang sebagai ciri-ciri angkatan perang. Dan sangkakala perang ini masih digunakan hingga saat ini sebagai salah satu alat peperangan. Mereka juga belajar pada penduduk pribumi tentang bagaimana cara untuk melatih merpati-pos yang digunakan untuk menyampaikan informasi militer dan dalam acara penyelenggaraan turnamen antar kesatria serta digunkan untuk meminjam sesuatu dari dinasti yang lain.
Selain mengadopsi berbagai atribut dan tradisi peperangan, perang Salib juga mendorong untuk mengembangkan berbagai taktik pengepungan, seperti metode melemahkan pertahanan, penggunaan manongel, pemasangan ranjau, alat pendobrak dn penggunaan berbagai alat peledak serta alat pembakaran. Kemudian dikenalkan dengan bubuk mesiu dari Cina yang di sana berfungsi sebagai alat pembakaran atau alat peledak. Tidak ada sejarawan perang Salib yang telah mengungkap tentang perkara ini.[14]
Dalam bidang pertanian, perdagangan dan industri, para tentara Salib mendapatkan keuntungan yang lebih banyak dan lebih manfaat dibandingkan dalan bidang intelektual. Seperti halnya, mendapatkan pengetahuan mengenai pertumbuhan bebrapa tanaman bau di kawasan Medeterania Barat seperti, biji wijen dan carob, padi-padian, semangka, jeruk, alpukat, dan shallot (sejenis bawang). Sementara di Timur orang Franka mendapatkan citarasa baru terutama dalam masalah Parfum, makanan-makanan baru, rempah-rempah, dan produk-produk tropis lainnya yang berasal dari Arab dan India yang sudah tersedia dan melimpah ruah di beberapa pasar Suriah. Citrasa tersbut yang akan mendorong tumbuhnya perdagangan di Italia dan kota-kota besar Medeterania.
Barang temuan pada saat perang Salib adalah kincir air. Sedangkan tentang kincir angin cacatan menunjukkan bahwa alat itu pertama kali digunakan di Normandia pada 1180. Kemudian para tentara Salib mendaptkan bentuk kincir air yang lebih bagus dan maju saat mereka pulang dan kembali ke tanah aslinya. Hingga saat ini kincir air ala Suriah masih dapat dilihat di Jerman dekat dengan Bayreuth.[15]

Daftar Pustaka
Amin, Samsul Munir. 2016.Sejarah Peradaban Islam. Jakarta: Amzah.
Murodi. 2008.Buku Ajar Sejarah Kebudayaan Islam Kurikulum 2008 untuk Kelas VII. Semarang: PT Karya Toha Putra.
K. Hitti, Philip. History of The Arabs; From The Earliest Times to The Present. Terj.R. Cecep Lukman Yasin dan Dedi Slamet Riyadi. History of The Arabs.Jakarta: PT. Serambi Ilmu Semesta, 2006.
Syukur, Syamzan, “Perang Salib Dalam Bingkai Sejarah.” Al-Ulum: Jurnal Sejarah Kebudayaan Islam, Vol. 11, No. 1, Juni 2011.
Ummu Faruq. 2000.Tarikh (Shuwar min At Tarikh Al-Islami). Jogjakarta: Pustaka Al-Haura’.
Yatim, Badri. 2008.Sejarah Peradaban Islam. Jakarta: PT Rajagrafindo Persada.



[1] Ummu Faruq, Tarikh (Shuwar min At Tarikh Al-Islami), (Jogjakarta: Pustaka Al-Haura’, 2000), hlm. 84
[2] Dr. H. Murodi, MA, Buku Ajar Sejarah Kebudayaan Islam Kurikulum 2008 untuk Kelas VII, (Semarang: PT Karya Toha Putra, 2008), hlm. 82
[3] Drs. Samsul Munir Amin, M.A, Sejarah Peradaban Islam, (Jakarta: Amzah, 2016), hlm. 278
[4] Dr. Badri Yatim, M.A, Sejarah Peradaban Islam, (Jakarta: PT Rajagrafindo Persada, 2008), hlm 79
[5] Syamzan Syukur, “Perang Salib Dalam Bingkai Sejarah.” Al-Ulum: Jurnal Sejarah Kebudayaan Islam, Vol. 11, No. 1, Juni 2011, hlm. 201
[6] Dr. H. Murodi, MA, Buku Ajar Sejarah Kebudayaan Islam Kurikulum 2008 untuk Kelas VII, hlm. 96
[7] Philip K. Hitti, History Of The Arabs; From The Earliest Times to The Present, tej. R. Cecep Lukman Yasin dan Dedi Slamet Riyadi, Histoy Of Arabs(Jakarta: PT Ikrar Mandiriabadi, 2006), hlm. 842
[8] Dr. H. Murodi, MA, Buku Ajar Sejarah Kebudayaan Islam Kurikulum 2008 untuk Kelas VII, hlm. 82
[9]Philip K. Hitti, History Of The Arabs; From The Earliest Times to The Present, tej. R. Cecep Lukman Yasin dan Dedi Slamet Riyadi, Histoy Of Arabs, hlm. 843
[10]Dr. H. Murodi, MA, Buku Ajar Sejarah Kebudayaan Islam Kurikulum 2008 untuk Kelas VII, hlm. 97
[11]Philip K. Hitti, History Of The Arabs; hlm. 851
[12]Philip K. Hitti, History Of The Arabs; hlm. 845-46
[13]Philip K. Hitti, History Of The Arabs; hlm. 846-849
[14]Philip K. Hitti, History Of The Arabs;, hlm. 849-851
[15] Philip K. Hitti, History Of The Arabs; hlm. 853-855

SEJARAH BERDIRINYA DINASTI AYYUBIYAH

SEJARAH BERDIRINYA DINASTI AYYUBIYAH

Oleh : Muhammad sholihuddin

          Pada tahun terakhir masa kekuasaan dinasti Fathimiyyah mulai muncul berbagai konflik di antara para wazir, suatu ketika seorang pemuka Fathimiyyah, Al-Mu’tadhid mengirimkan surat kepada Nuruddin, yang merupakan penguasa Daulah Abbasiyah tentang permintaan agar Nuruddin menarik pasukan tentara Turki dari Mesir, namun permintaan tersebut di tolak karena menurut Nuruddin Mesir termasuk dalam wilayah kekuasaannya.
          Akibat penolakan tersebut mengakibatkanAwal mula dinasti ini didirikan ketika Shalahuddin mendeklarasikan Mesir dari daulah Fathimiyyah atas perintah dari Nuruddin. Sehingga dinasti Fathimiyyah tidak lagi memiliki hak kekuasaan atas Mesir, setelah itu kedudukan Fathimiyah digantikan oleh dinasti Abassiyyah. Namun hal itu belum membuat Shalahuddin tenang, hingga pada akhirnya ia mendirikan daulah Ayyubiyah  yang beraliran Sunni yang menggantikan dinasti Fathimiyyah yang beraliran Syi’ah. [1]
          Namun tindakan Shalahuddin membuat Nuruddin marah terhadapnya. Hal tersebut dikarenakan Shalahuddin lebih memilih untuk mendirikan disnastinya sendiri dibandingkan tetap berada dibawah kuasa Nuruddin, untuk, mengembangkan dinasti Abbasiyah.[2]
          Ayyubiyah merupakan dinasti beraliran Sunni yang dipimpin oleh Shalahuddin Al Ayyubi. Shalahuddin Yusuf al-Ayyubi merupakan putra dari Najmuddin lahir pada tahun 532H/1137M dan memilki nama asli Abul Muzhaffar Yusuf bin Najmuddin bin Ayyub bin Syaadi. Pada usia 10 tahun Shalahuddin mampu menghafal Al-Qur’an ia juga rajin belajar ilmu fikih, hadits dan tafsir. Pada tahun 543H/1139 M, Shalahuddin diangkat menjadi gubernur di kota Ba’labak.[3]
          Didalam diri Shalahuddin terlihat jiwa-jiwa kepemimpinan yang besar dan mulia. Hal ini dapat dilihat ketika Shalahuddin diajak menaklukkan pasukan Eropa yang tengah memerangi Islam oleh pamannya, Asadudin. Dari pengalaman mengikuti perjuangan pamannya, Shalahuddin memiliki bekal dalam tugas ketentaraan. Shalahuddin adalah seorang yang cakap sehingga mampu memimpin pasukan perang. Kabar ini terdengar oleh ayahnya sehingga ayahnya turut bahagia dan mulai memberi teknik-teknik kepemimpian kepada Shalahuddin.
          Pusat pemerintahan dinasti Ayyubiyah terletak di Kairo. Dimana ketika Shalahuddin memegang kekuasaannya disini, Kairo menjadi kota yang megah dengan dibangunnya benteng besar yang terletak di Lembah Muqattam dan menjadi pagar benteng kota. Benteng ini dinamakan benteng Shalahuddin atau Shaladin Citadel, yang terinspirasi dari seorang penguasa dinasti Ayyubiyah yakni Shalahuddin.
          Shalahuddin sangat berjasa dalam perkembangan Dinasti Ayyubiyah yakni, ia selalu berusaha dengan seluruh kemampuannya untuk senantiasa mempertahankan negara pada saat-saat genting. Seperti halnya, ketika memburuknya moral politik yang mana pada saat itu dia sebagai pemimpin mampu membuat benteng-benteng persatuan yang kokoh guna menghadapi serangan dari berbagai arah. Hal ini dilakukannya karena ia dapat melihat secara jelas bahwasannya kelemahan moral politik Islam dapat memudahkan negara-negara salib untuk melakukan ekspansi dan mempertahankan diri. Dalam situasi seperti ini Shalahuddin memeri saran agar mengembalikan urusan politik kepada orang yang berhak menerimanya.[4]
          Usaha Shalahuddin dalam memperkuat Islam mulai menemukan titik terangnya, sehingga karena kegigihannya ia mampu menguasai wilayah kekuasaan Islam bahkan ia mampu menakhlukkan Bairut, Eufrat, hingga Aleppo. Setelah menakhlukkan kota-kota tersebut ia berusaha mewujudkan mimpinya untuk mempersatukan umat Islam dalam satu bendera.
          Dinasti Ayyubiyah dibawah kekuasaan Shalahuddin hanya bertahan selama 75 tahun. Namun Shalahuddin sudah dianggap menyelamatkan Kairo yang akan jatuh ke dalam kekuasaan tentara Salib pada tahun 1167M.
Dalam perkembangan dinasti Ayyubiyah terdapat beberapa tokoh yang memiliki peran penting seperti :
1.             Salahudin al-ayyubi : berperan sebagai pendiri dynasty al-ayyubi
2.             Nurud dinzanki : gubernur suriah yang member tugas pada salahudin al-ayyubi dan pamannya untuk membantu dinasti fatimiyyah di mesir dalam perangsalib
3.             Asadud dinsyirkuh : pamansalahudin al-ayyubi
4.             Najmuddin bin ayyub : ayah salahuddin al-ayyubi
5.             Al adid : khalifah dinasti fatimuyyah yang terakhir

Daftar Pustaka
Moh. Nurhakim, Jatuhnya Sebuah Tamadun : Menyingkap Sejarah Kegemilangan
dan Kehancuran Imperium Khalifah Islam. Jakarta :Kementerian Agama
Republik Indonesia, 2012.
Ash-Shayim, Shalahuddin al-Ayyubi, Jakarta: Gema Insani Press,2003.
Ahmad Husayn Amin, Seratus Tokoh dalam Sejarah , Bandung : Remaja
          Rosadakarya, 1995.



[1]Moh. Nurhakim, Jatuhnya Sebuah Tamadun : Menyingkap Sejarah Kegemilangan dan Kehancuran Imperium Khalifah Islam, ( Jakarta :Kementerian Agama Republik Indonesia, 2012), hal. 121
[2]Ash-Shayim, Shalahuddin al-Ayyubi, (Jakarta: Gema Insani Press,2003) hal.,30
[3]Ibid, hal.,17
[4]Ahmad Husayn Amin, Seratus Tokoh dalam Sejarah , (Bandung : Remaja Rosadakarya, 1995), hal. 189

PUASA TASU’AH DAN ‘ASYURA DALAM ISLAM

PUASA TASU’AH DAN ‘ASYURA Oleh: Ali Hasan Assidiqi A.   PENGERTIAN DAN HUKUM DALILNYA 1.     Puasa Tasu’ah (9 Muharram) Tasu’ah b...