Jumat, 03 Agustus 2018

KERASULAN NABI MUHAMMAD SAW

KERASULAN NABI MUHAMMAD SAW

Oleh: Muhammad Arafat Arroisi

A.  Bukti Kerasulan Nabi Muhammad SAW
1.1.       Bukti kerasulan dari kitab-kitab ilahiyah
a.              Taurat
Dari Abdullah bin Amr bin al-Ash yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhori, dia berkata, “Aku menemukan sifat Nabi di dalam Taurat, disana Allah berfirman: Wahai Nabi, sesungguhnya Kami mengutusmu sebagai saksi, pembawa kabar gembira, pemberi peringatan, dan pelindung orang-orang yang ummi. Kamu adalah hamba-Ku dan utusan-Ku. Aku menamakanmu al-Mutawakkil, tidak kasar dan tidak keras, tidak berteriak di pasar-pasar, tidak menolak keburukan dengan keburukan, akan tetapi dia memaafkan dan berlapang dada. Allah tidak mewafatkannya sehingga dia meluruskan agama yang bengkok, membuka mata yang buta, telinga yang tuli dan hati yang terkunci. Dia menyeru agar orang-orang mengucapkan laa ilaaha illallah.
Dan dalam kitab Taurat juga disebutkan: “ Aku menegakkan Nabi SAW sepeertimu dari kalangan saudara-saudara mereka. Aku menjadikan firman-Ku di lisannya, maka dia berbicara kepada mereka dengan semua yang Aku wasiatkan kepadanya. “Orang di mana Allah menjadikan firman-Nya di lisannya tidak llain adalah Muhammad SAW, karena beliau membaca al-Qur’an tanpa melihatnya, tidak berbicara kecuali dengan apa yang tertera di dalamnya, dan dia menyeru kepada kebenaran, hidayah, dan kebaikan yang ada di dalamnya.
b.             Injil
Disebutkan di dalam Injil, “Pada hari-hari itu Yuhanna (Yohannes) datang ke al-Muammadan. Dia masuk ke tanah orang-orang Yahudi, seraya berkata, ‘Tunggulah, karena kerajaan langit telah dekat kedatangannya.”Ucapannya, ‘Kerajaan langit telah dekat kedatangannya.’Adalah isyarat kepada Nabi Muhammad SAW, berita gembira akan kedatangannya, dan bahwa masa pengutusannya telah dekat karena dialah yang berkuasa dan berhukum kepada undang-undang langit yaitu syari’at Allah Ta’ala. Disebutkan juga di dalam Injil: “Aku pergi, karena jika aku tidak pergi maka Paraclete tidak datang kepada kalian. Adapun jika aku pergi maka aku mengutusnya kepada kalian, jika dia datang maka dialah orang yang meluruskan dunia atas kekeliruannya.” Ini merupakan berita gembira sempurna terhadap kehadiran Nabi SAW yang meluruskan kekeliruan alam semesta, karena Allah mengutus Nabi SAW sedang dunia seluruhnya dalam kegelapan syirik dan kekufuran. [1]
c.              Zabur
Di dalam Zabur, Nabi Asy’iya berkata, “Dilahirkan untuk kami seorang anak laki-laki sebagai keajaiban dan berita gembira, cap kenabian ada di antara kedua pundaknya. Dia adalah keselamatan besar dari Rabb Yang Mahaperkasa. [2]
1.2.       Kesaksian Ahli Kitab
a.              Ibnu al-Hayyitan
Ibnu al-Hayyitan adalah seorang Yahudi yang berasl dari negeri Syam, berkata pada saat ajal menjemputnya di Madinah, “Wahai orang-orang Yahudi, apa menurut kalian yang membuatku keluar dari negeri arak dan roti ke negeri kemiskinan dan kelaparan?” Mereka menjawab, “Engau lebih mengetahui.” Dia berkata, “Sesungguhnya aku datang ke kota ini karena aku menunggu kehadiran seorang Nabi yang telah dekat masanya.  Kota ini adalah tempat hijrahnya. Aku berharap Nabi itu diutus lalu aku mengikutinya.sungguh, masanya telah dekat maka jangan sampai orang lain mendahului kalian, waha orang-orang Yahudi.
b.             Rahib Ammuriyyah
Rahib Ammuriyyah yang menganut agama al-Masih berkata kepada Salman al-Farisi yang sempat berpindah dari satu agama ke agama lain sebelum akhirnya dia bertemu dengan orang ini berkat sebuah wasiat yang diwasiatkan kepadanya. Rahib tersebut mengatakan sebuah hal ketika menjelang ajalnya, “Demi Allah, aku tidak mengetahui bahwa pada hari ini masih ada orang yang memegang agama yang mereka pegang itu, maksudnya adalah para rahib dimana Salman sempat mengikuti mereka agar kamu bisa mendatanginya. Hanya saja telah dekat masa munculnya seorang Nabi yang diutus dengan membawa agama Ibrahim. Dia akan keluar di bumi Arab. Tempat hijrahnya adalah negeri diantara dua gunung berbatu hitam diantaranya terdapat kebun kurma yang tidak lain adalah kota Madinah, demi Rabb Ka’bah Nabi tersebut memiliki tanda yang tidak samar. [3]
1.3.       Bisikan berita gembira dari Jin
Di antara berita gembira yang ada seputar kerasulan adalah banyaknya panah-panah api langit yang melempar syaitan-syaitan sehingga manusia terheran-heran dan para dukun baik laki-laki maupun perempuan ketakutan.
Suatu ketika Sawad bin Qarib lewat di depan ‘Umar bin al-Khatthab, lalu seorang laki-laki berkata kepada ‘Umar, “Wahai Amirul Mukminin, apakah Anda tahu siapa yang lewat?”
‘Umar menjawab, “Tidak, siapa dia?” Laki-laki itu berkata, “Itu adalah Sawad bin Qarib, seorang laki-laki yang didatangi oleh jin yang menyampaikan tentang munculnya Nabi SAW.”
Saat itu juga ‘Umar meminta agar Sawad dihadapkan kepadanya. ‘Umar berkata
kepadanya, “Apakah kamu Sawad bin Qarib?” Sawad menjawab, “Benar.”
‘Umar bertanya, “Benarkah jin datang kepadamu menyampaikan tentang munculnya Nabi SAW?” Dian menjawab, “Ya.”
‘Umar bertanya, “Apakah kamu masih seperti dulu berpraktek sebagai dukun?” maka Sawad marah, dan berkata, “Wahai amirul Mukminin, tidak seorang pun yang bertanya begitu kepadaku sejak aku masuk Islam.”[4]
1.4.       Mukjizat yang turun kepada Rasulullah
Dalam beberapa buku disebutkan bahwa ada banyak sekali mukjizat yang dimiliki Nabj Muhammad, mukjizat ini terbagi menjadi dua yakni, mukjizat maknawiyah dan hissiyah. Mukjizat maknawiyah diartikan sebagai mukjizat Nabi yang dapat dipahami dan dilihat serta dirasakan keberadaannya, seperti keluarnya air dari jari-jemarinya Rasulullah, sedangkan mukjizat maknawiyah adalah berupa mukjizat al-Qur’an.[5]
B.  Peristiwa Kerasulan Nabi Muhammad SAW
Pada malam Senin di bulan Rabi’ul Awwal terbitlah matahari Muhammad SAW, di mana beliau tidak bermimpi baik di waktu siang maupun malam kecuali ia hadir sejelas cahaya subuh. az-Zuhri meriwayatkan dari Urwah dari bibinya, ‘Aisyah Ummul Mukminin, berkata, “Sesungguhnya perkara kenabian pertama yang diterima Muhammad SAW pada saat Allah hendak memuliakannya dan memberikan rahmat kepada hamba-hamba dengannya adalah ar-ru’yah ash-shadiqah (mimpi yang benar). Rasulullah SAW tidak melihat mimpi dalam tidurnya kecuali ia hadir layaknya cahaya shubuh.” ‘Aisyah berkata, “Rasulullah SAW mulai menyukai berkhalwat (menyendiri), tidak ada sesuatu yang lebih beliau sukai daripada berkhalwat.
Nabi SAW memilih tempat untuk melakukan khalwat yang disukai oleh dirinya, yakni gua Hira’. Di gua ini Nabi SAW berkhalwat, berdiam beberapa malam di sana untuk beribadah, menghindar dari kesyirikan dan kebatilan yang beliau dengar dan lihat dari kaumnya, orang-orang Quraisy. Pada suatu malam di bulan Ramadhan yang penuh berkah, ada kemungkinan malam tujuh belas, Jibril turun kepada Nabi membawa berita kenabian sebagai pengantar risalah yang akan beliau sandang kepada seluruh manusia.
Imam ahli hadits al-Bukhari meriwayatkan kepada kita dari Ummul Mukminin ‘Aisyah kisah permulaan wahyu. ‘Aisyah berkata, “Wahyu pertama yang datang kepada Rasulullah SAW adalah mimpi yang benar dalam tidur. Beliau tidak melihat dalam mimpinya kecuali ia hadir sejelas cahaya shubuh. Kemudian Rasulullah SAW dijadikan cinta untuk berkhalwat(menyendiri). Belliau berkhalwat di gua Hira’. Di sana beliau bertahannuts (beribah) beberapa malam sebelum beliau pulang kepada keluarganya guna mengambil bekal untuk itu. Kemudian beliau pulang kepada Khadijah dan mengambil bekal yang sama hingga wahyu itu datang kepada beliau pada saat beliau di gua Hira’
Malaikat datang kepada beliau lalu berkata, “Bacalah!” Nabi SAW menjawab:
 “Aku tidak dapat membaca. “Beliau SAW berkata, “Malaikat itu memegangku dan memelukku hingga aku sulit bernafas. Kemudian Malaikat itu melepaskanku lalu berkata (lagi), “Bacalah.” Maka aku menjawab, “Aku tidak dapat membaca. “Beliau SAW melanjutkan, “Malaikat itu memegangku dan memelukku untuk kedua kalinya hingga aku sulit bernafas. Kemudian Malaikat itu melepaskanku, lalu berkata, “Bacalah.” Maka aku menjawab, “Aku tidak dapat membaca.” Beliau SAW berkata, “Malaikat itu memegangku dan memelukku untuk ketiga kalinya hingga aku sulit bernafas.[6] Kemudian Malaikat itu melepaskanku lalu berkata tentang surat Al-Alqa ayat 1-5.
Setelah itu, Rasulullah SAW pulang dengan hati gemetar. Beliau menemui Khadijah binti Khuwailiid dan bersabda:
زملوني زملوني.
“Selimutilah aku, selimutilah aku.”
Maka keluarga beliau menyelimuti beliau sehingga rasa takut beliau hilang.[7] Selanjutnya Nabi SAW menceritakan apa yang beliau alami kepada Khadijah, lalu bersabda kepadanya:
لقدخشيت على نفسي.
“Sungguh aku khawatir terhadap diriku.”
Maka Khadijah berkata, “Sekali-kali tidak akan demikian, demi Allah, Allah tidak akan menghinakanmu selama-lamanya. Sesungguhnya engkau menyambung jalinan Rahim, memikul beban berat demi kebenaran, engkau memberi orang yang tidak punya, memuliakan tamu, dan mendukung penegakan kebenaran.
Khadijah kemudian membawa beliau menemui Waraqah ibn Naufal ibn Asad ibn Adbul Uzza, salah seorang salah seorang pemeluk agama Nasrani pada masa Jahiliyyah. Khadijah berkata, “Wahai anak pamanku! Dengarkanlah apa yang akan disampaikan saudaramu!”
Waraqah menjawab, “Apa yang engkau lihat?” Kemudian Nabi SAW menceritakan semua yang telah dilihatnya. Selesai Nabi berbicara, Waraqah berkata, “Ini adalah Namus yang diturunkan kepada Musa a.s.[8]

Daftar Pustaka
.الجزائري، ابو بكر جابر ، هذا الحبيب محمد الرسول الله عليه وسلمل يا محب، المدينة المنوة: مكتبة العلوم والحكم، ١٤١٤ه
الزيد، زيد بن عبد الكريم ، فقه السيرة، الرياض: دار التدمرية، ١٤٢٤ه.
al-Jaza-iriy, Syaikh Abubakar, Hadzal Habib Muhammad SAW Ya Muhibb, Terj. Izzudin Karimi dan Hanif Yahya Asy’ari, Jakarta: Pustaka Ibnu katsir, 2010.
Katsir, Ibnu. Al-Fushuul fii Siirah ar-Rasul SAW, Terj. Abu Umar al-Maidani. Solo: at-Tibyan, 2009.
Murad, Mushtafa, Mukjizat Rasulullah: 1000 Mukjizat Nabi Akhir Zaman, Terj. Agus Saifuddin dan Abdi Pemi Karyanto, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2008.
Mustofa, Muh. Khairil, Sejarah Kebudayaan Islam1 judul II, Jakarta: Kementrian Agama Republik Indonesia, 2016.
Mutawalli, Ahmad Mushtafa, ar-Raudhah al-Bahiyyah fi Mu’jizah an-Nabi wa asy-Syama’il Muhammadiyyah, Terj. Muflih Kamil, Jakarta: Qisthi Press, 2010.



[1] ابو بكر جابر الجزائري، هذا الحبيب محمد الرسول الله عليه وسلمل يا محب، (المدينة المنوة: مكتبة العلوم والحكم، ١٤١٤ه) ، ٥٢-٠٥٤
[2] Ibnu Katsir, Al-Fushuul fii Siirah ar-Rasul SAW, Terj. Abu Umar al-Maidani. (Solo: at-Tibyan, 2009), 183.
[3] Syaikh Abubakar al-Jaza-iriy, Hadzal Habib Muhammad SAW Ya Muhibb, Terj. Izzudin Karimi dan Hanif Yahya Asy’ari, (Jakarta: Pustaka Ibnu katsir, 2010), 75.
[4] ابو بكر جابر الجزائري، هذا الحبيب محمد الرسول الله عليه وسلمل يا محب، ٥٧.
[5] Mushtafa Murad, Mukjizat Rasulullah: 1000 Mukjizat Nabi Akhir Zaman, Terj. Agus Saifuddin dan Abdi Pemi Karyanto, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2008), 205.
[6] زيد بن عبد الكريم الزيد، فقه السيرة، (الرياض: دار التدمرية، ١٤٢٤ه) ، ١٢٢.
[7] Muh. Khairil Mustofa, Sejarah Kebudayaan Islam1 judul II, (Jakarta: Kementrian Agama Republik Indonesia, 2016), 89.
[8] Ahmad Mushtafa Mutawalli, ar-Raudhah al-Bahiyyah fi Mu’jizah an-Nabi wa asy-Syama’il Muhammadiyyah, Terj. Muflih Kamil, (Jakarta: Qisthi Press, 2010), 33.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PUASA TASU’AH DAN ‘ASYURA DALAM ISLAM

PUASA TASU’AH DAN ‘ASYURA Oleh: Ali Hasan Assidiqi A.   PENGERTIAN DAN HUKUM DALILNYA 1.     Puasa Tasu’ah (9 Muharram) Tasu’ah b...