KERASULAN NABI MUHAMMAD SAW
Oleh:
Muhammad Arafat Arroisi
A.
Bukti Kerasulan Nabi Muhammad SAW
1.1.
Bukti kerasulan dari kitab-kitab
ilahiyah
a.
Taurat
Dari
Abdullah bin Amr bin al-Ash yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhori, dia
berkata, “Aku menemukan sifat Nabi di dalam Taurat, disana Allah berfirman:
Wahai Nabi, sesungguhnya Kami mengutusmu sebagai saksi, pembawa kabar gembira,
pemberi peringatan, dan pelindung orang-orang yang ummi. Kamu adalah hamba-Ku
dan utusan-Ku. Aku menamakanmu al-Mutawakkil, tidak kasar dan tidak
keras, tidak berteriak di pasar-pasar, tidak menolak keburukan dengan
keburukan, akan tetapi dia memaafkan dan berlapang dada. Allah tidak
mewafatkannya sehingga dia meluruskan agama yang bengkok, membuka mata yang
buta, telinga yang tuli dan hati yang terkunci. Dia menyeru agar orang-orang
mengucapkan laa ilaaha illallah.”
Dan dalam kitab Taurat juga disebutkan: “ Aku
menegakkan Nabi SAW sepeertimu dari kalangan saudara-saudara mereka. Aku
menjadikan firman-Ku di lisannya, maka dia berbicara kepada mereka dengan semua
yang Aku wasiatkan kepadanya. “Orang di mana Allah menjadikan firman-Nya di
lisannya tidak llain adalah Muhammad SAW, karena beliau membaca al-Qur’an tanpa
melihatnya, tidak berbicara kecuali dengan apa yang tertera di dalamnya, dan dia
menyeru kepada kebenaran, hidayah, dan kebaikan yang ada di dalamnya.
b.
Injil
Disebutkan di dalam Injil, “Pada
hari-hari itu Yuhanna (Yohannes) datang ke al-Muammadan. Dia masuk ke tanah
orang-orang Yahudi, seraya berkata, ‘Tunggulah, karena kerajaan langit telah
dekat kedatangannya.”Ucapannya, ‘Kerajaan langit telah dekat kedatangannya.’Adalah
isyarat kepada Nabi Muhammad SAW, berita gembira akan kedatangannya, dan bahwa
masa pengutusannya telah dekat karena dialah yang berkuasa dan berhukum kepada
undang-undang langit yaitu syari’at Allah Ta’ala. Disebutkan juga di
dalam Injil: “Aku pergi, karena jika aku tidak pergi maka Paraclete tidak
datang kepada kalian. Adapun jika aku pergi maka aku mengutusnya kepada kalian,
jika dia datang maka dialah orang yang meluruskan dunia atas kekeliruannya.”
Ini merupakan berita gembira sempurna terhadap kehadiran Nabi SAW yang
meluruskan kekeliruan alam semesta, karena Allah mengutus Nabi SAW sedang dunia
seluruhnya dalam kegelapan syirik dan kekufuran. [1]
c.
Zabur
Di dalam Zabur,
Nabi Asy’iya berkata, “Dilahirkan untuk kami seorang anak laki-laki sebagai
keajaiban dan berita gembira, cap kenabian ada di antara kedua pundaknya. Dia
adalah keselamatan besar dari Rabb Yang Mahaperkasa. [2]
1.2.
Kesaksian Ahli Kitab
a.
Ibnu al-Hayyitan
Ibnu
al-Hayyitan adalah seorang Yahudi yang berasl dari negeri Syam, berkata pada
saat ajal menjemputnya di Madinah, “Wahai orang-orang Yahudi, apa menurut
kalian yang membuatku keluar dari negeri arak dan roti ke negeri kemiskinan dan
kelaparan?” Mereka
menjawab, “Engau lebih mengetahui.” Dia berkata, “Sesungguhnya aku datang ke
kota ini karena aku menunggu kehadiran seorang Nabi yang telah dekat masanya. Kota ini adalah tempat hijrahnya. Aku
berharap Nabi itu diutus lalu aku mengikutinya.sungguh, masanya telah dekat
maka jangan sampai orang lain mendahului kalian, waha orang-orang Yahudi.
b.
Rahib Ammuriyyah
Rahib
Ammuriyyah yang menganut agama al-Masih berkata kepada Salman al-Farisi yang
sempat berpindah dari satu agama ke agama lain sebelum akhirnya dia bertemu
dengan orang ini berkat sebuah wasiat yang diwasiatkan kepadanya. Rahib tersebut
mengatakan sebuah hal ketika menjelang ajalnya, “Demi Allah, aku tidak
mengetahui bahwa pada hari ini masih ada orang yang memegang agama yang mereka
pegang itu, maksudnya adalah para rahib dimana Salman sempat mengikuti mereka
agar kamu bisa mendatanginya. Hanya saja telah dekat masa munculnya seorang
Nabi yang diutus dengan membawa agama Ibrahim. Dia akan keluar di bumi Arab.
Tempat hijrahnya adalah negeri diantara dua gunung berbatu hitam diantaranya
terdapat kebun kurma yang tidak lain adalah kota Madinah, demi Rabb Ka’bah Nabi
tersebut memiliki tanda yang tidak samar. [3]
1.3.
Bisikan berita gembira dari Jin
Di antara berita gembira yang ada
seputar kerasulan adalah banyaknya panah-panah api langit yang melempar
syaitan-syaitan sehingga manusia terheran-heran dan para dukun baik laki-laki
maupun perempuan ketakutan.
Suatu ketika Sawad bin Qarib lewat di depan ‘Umar bin
al-Khatthab, lalu seorang laki-laki berkata kepada ‘Umar, “Wahai Amirul
Mukminin, apakah Anda tahu siapa yang lewat?”
‘Umar menjawab, “Tidak, siapa dia?” Laki-laki itu
berkata, “Itu adalah Sawad bin Qarib, seorang laki-laki yang didatangi oleh jin
yang menyampaikan tentang munculnya Nabi SAW.”
Saat itu juga ‘Umar meminta agar
Sawad dihadapkan kepadanya. ‘Umar berkata
kepadanya, “Apakah kamu Sawad bin
Qarib?” Sawad menjawab, “Benar.”
‘Umar bertanya, “Benarkah jin datang kepadamu
menyampaikan tentang munculnya Nabi SAW?” Dian menjawab, “Ya.”
‘Umar bertanya, “Apakah kamu masih seperti dulu
berpraktek sebagai dukun?” maka Sawad marah, dan berkata, “Wahai amirul
Mukminin, tidak seorang pun yang bertanya begitu kepadaku sejak aku masuk
Islam.”[4]
1.4.
Mukjizat yang turun kepada
Rasulullah
Dalam
beberapa buku disebutkan bahwa ada banyak sekali mukjizat yang dimiliki Nabj
Muhammad, mukjizat ini terbagi menjadi dua yakni, mukjizat maknawiyah dan
hissiyah. Mukjizat
maknawiyah diartikan sebagai mukjizat Nabi yang dapat dipahami dan dilihat
serta dirasakan keberadaannya, seperti keluarnya air dari jari-jemarinya
Rasulullah, sedangkan mukjizat maknawiyah adalah berupa mukjizat al-Qur’an.[5]
B.
Peristiwa Kerasulan Nabi Muhammad
SAW
Pada malam Senin di bulan Rabi’ul
Awwal terbitlah matahari Muhammad SAW, di mana beliau tidak bermimpi baik di waktu
siang maupun malam kecuali ia hadir sejelas cahaya subuh. az-Zuhri meriwayatkan
dari Urwah dari bibinya, ‘Aisyah Ummul Mukminin, berkata, “Sesungguhnya perkara
kenabian pertama yang diterima Muhammad SAW pada saat Allah hendak
memuliakannya dan memberikan rahmat kepada hamba-hamba dengannya adalah ar-ru’yah
ash-shadiqah (mimpi yang benar). Rasulullah SAW tidak melihat mimpi dalam
tidurnya kecuali ia hadir layaknya cahaya shubuh.” ‘Aisyah berkata, “Rasulullah
SAW mulai menyukai berkhalwat (menyendiri), tidak ada sesuatu yang lebih beliau
sukai daripada berkhalwat.
Nabi SAW memilih
tempat untuk melakukan khalwat yang disukai oleh dirinya, yakni gua Hira’. Di
gua ini Nabi SAW berkhalwat, berdiam beberapa malam di sana untuk beribadah,
menghindar dari kesyirikan dan kebatilan yang beliau dengar dan lihat dari
kaumnya, orang-orang Quraisy. Pada suatu malam di bulan Ramadhan yang penuh
berkah, ada kemungkinan malam tujuh belas, Jibril turun kepada Nabi membawa
berita kenabian sebagai pengantar risalah yang akan beliau sandang kepada
seluruh manusia.
Imam ahli hadits
al-Bukhari meriwayatkan kepada kita dari Ummul Mukminin ‘Aisyah kisah permulaan
wahyu. ‘Aisyah berkata, “Wahyu pertama yang datang kepada Rasulullah SAW adalah
mimpi yang benar dalam tidur. Beliau tidak melihat dalam mimpinya kecuali ia
hadir sejelas cahaya shubuh. Kemudian Rasulullah SAW dijadikan cinta untuk
berkhalwat(menyendiri). Belliau berkhalwat di gua Hira’. Di sana beliau bertahannuts
(beribah) beberapa malam sebelum beliau pulang kepada keluarganya guna
mengambil bekal untuk itu. Kemudian beliau pulang kepada Khadijah dan mengambil
bekal yang sama hingga wahyu itu datang kepada beliau pada saat beliau di gua
Hira’
Malaikat datang kepada
beliau lalu berkata, “Bacalah!” Nabi SAW menjawab:
“Aku tidak dapat
membaca. “Beliau SAW berkata, “Malaikat itu memegangku dan memelukku hingga aku
sulit bernafas. Kemudian Malaikat itu melepaskanku lalu berkata (lagi),
“Bacalah.” Maka aku menjawab, “Aku tidak dapat membaca. “Beliau SAW
melanjutkan, “Malaikat itu memegangku dan memelukku untuk kedua kalinya hingga
aku sulit bernafas. Kemudian Malaikat itu melepaskanku, lalu berkata,
“Bacalah.” Maka aku menjawab, “Aku tidak dapat membaca.” Beliau SAW berkata,
“Malaikat itu memegangku dan memelukku untuk ketiga kalinya hingga aku sulit
bernafas.[6]
Kemudian Malaikat itu melepaskanku lalu berkata tentang surat Al-Alqa ayat
1-5.
Setelah itu,
Rasulullah SAW pulang dengan hati gemetar. Beliau menemui Khadijah binti
Khuwailiid dan bersabda:
زملوني زملوني.
“Selimutilah aku, selimutilah aku.”
Maka keluarga beliau menyelimuti
beliau sehingga rasa takut beliau hilang.[7]
Selanjutnya Nabi SAW menceritakan apa yang beliau alami kepada Khadijah, lalu
bersabda kepadanya:
لقدخشيت على
نفسي.
“Sungguh aku khawatir terhadap diriku.”
Maka Khadijah berkata,
“Sekali-kali tidak akan demikian, demi Allah, Allah tidak akan menghinakanmu
selama-lamanya. Sesungguhnya engkau menyambung jalinan Rahim, memikul beban
berat demi kebenaran, engkau memberi orang yang tidak punya, memuliakan tamu,
dan mendukung penegakan kebenaran.
Khadijah kemudian
membawa beliau menemui Waraqah ibn Naufal ibn Asad ibn Adbul Uzza, salah
seorang salah seorang pemeluk agama Nasrani pada masa Jahiliyyah. Khadijah
berkata, “Wahai anak pamanku! Dengarkanlah apa yang akan disampaikan
saudaramu!”
Waraqah menjawab, “Apa
yang engkau lihat?” Kemudian Nabi SAW menceritakan semua yang telah dilihatnya.
Selesai Nabi berbicara, Waraqah berkata, “Ini adalah Namus yang diturunkan
kepada Musa a.s.[8]
Daftar Pustaka
.الجزائري، ابو بكر جابر ، هذا
الحبيب محمد الرسول الله عليه وسلمل يا محب، المدينة المنوة: مكتبة العلوم
والحكم، ١٤١٤ه
الزيد، زيد بن عبد الكريم ، فقه السيرة،
الرياض: دار التدمرية، ١٤٢٤ه.
al-Jaza-iriy, Syaikh Abubakar, Hadzal Habib
Muhammad SAW Ya Muhibb, Terj. Izzudin Karimi dan Hanif Yahya Asy’ari, Jakarta:
Pustaka Ibnu katsir, 2010.
Katsir, Ibnu. Al-Fushuul fii Siirah ar-Rasul SAW,
Terj. Abu Umar al-Maidani. Solo: at-Tibyan, 2009.
Murad, Mushtafa, Mukjizat Rasulullah: 1000
Mukjizat Nabi Akhir Zaman, Terj. Agus Saifuddin dan Abdi Pemi Karyanto, Jakarta:
PT. Raja Grafindo Persada, 2008.
Mustofa, Muh. Khairil, Sejarah Kebudayaan Islam1
judul II, Jakarta: Kementrian Agama Republik Indonesia, 2016.
Mutawalli, Ahmad Mushtafa, ar-Raudhah al-Bahiyyah
fi Mu’jizah an-Nabi wa asy-Syama’il Muhammadiyyah, Terj. Muflih Kamil,
Jakarta: Qisthi Press, 2010.
[1] ابو بكر جابر
الجزائري، هذا الحبيب محمد الرسول الله عليه وسلمل يا محب، (المدينة
المنوة: مكتبة العلوم والحكم، ١٤١٤ه) ، ٥٢-٠٥٤
[2] Ibnu Katsir, Al-Fushuul
fii Siirah ar-Rasul SAW, Terj. Abu Umar al-Maidani. (Solo: at-Tibyan,
2009), 183.
[3] Syaikh Abubakar
al-Jaza-iriy, Hadzal Habib Muhammad SAW Ya Muhibb, Terj. Izzudin Karimi
dan Hanif Yahya Asy’ari, (Jakarta: Pustaka Ibnu katsir, 2010), 75.
[5] Mushtafa Murad, Mukjizat
Rasulullah: 1000 Mukjizat Nabi Akhir Zaman, Terj. Agus Saifuddin dan Abdi
Pemi Karyanto, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2008), 205.
[7] Muh. Khairil Mustofa,
Sejarah Kebudayaan Islam1 judul II, (Jakarta: Kementrian Agama Republik
Indonesia, 2016), 89.
[8] Ahmad Mushtafa
Mutawalli, ar-Raudhah al-Bahiyyah fi Mu’jizah an-Nabi wa asy-Syama’il
Muhammadiyyah, Terj. Muflih Kamil, (Jakarta: Qisthi Press, 2010), 33.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar