Jumat, 07 September 2018

TAKHRIJ HADITS

TAKHRIJ HADITS

Anang Ismail, Ataita Anida dan Oky Aldrin Suwignyo
Mahasiswa-Mahasiswi PAI-B Semester 3 UIN Maliki Malang
Dosen : benny afwadzi

Abstract
Hadis is everything related to the Prophet of Muhammad , whether his sayings, behaviour, or decisions. Hadis is the second source of Islamic law after the Holy Qur’an. There are so many hadis are written in hadits book as source to decide some cases since it is not stated in Holy Qur’an. The existence of takhrij method allows people to find hadits easily without searching in many books. Takhrij hadis is a method used to take out, look for and reveal hadis from the original soures. This method is very useful for students and teachers to reveal hadis. Since technogoly is rising, takhrij hadis is not only applied in books but also with software or application which is to help people in understanding hadis.

Abstrak
Hadis ialah segala sesuatu yang disandarkan kepada nabi Muhammad baik perkataan perbuatan maupun ketetapannya. Hadis merupakan sumber  syariat islam kedua setelah al-qur’an. Hadist banyak dimuat didalam berbagai kitab-kitab hadis  yang menjadi rujukan suatu hukum tertentu setelah hukum tersebut tidak terdapat dalam Al-qur’an. Untuk mencari sebuah hadis dari kitab-kitab hadist tentunya tidak mungkin harus mencari atau membuka satu persatu kitab hadis, namun dengan adanya ilmu takhrij dapat mempermudah dalam pencarian hadis. Ilmu takrijh sendiri merupakan metode yang digunakan untuk mengeluarkan, mencari serta mengungkapkan hadis dari sumber-sumber aslinya. Takrijh hadis ini sangat berguna bagi mahasiswa bahkan dosen dalam mengunggkap sebuah hadis. Dengan berkembangannya dunia teknologi seperti sekarang ini takhrij hadis tidak hanya dilakukan dengan kitab-kitab tetapi takhrij dapat dilakukan dengan software atau aplikasi, yang semuanya itu ialah untuk mempermudah seseorang dalam memahami sebuah hadis.
Kata kunci :Ilmu hadis, Takhrij hadis

A.  Pendahuluan
Hadis adalah satu dari dua sumber syariat Islam setelah Al-Quran. Fungsi hadis dalam syariat Islam sangat strategis. Diantara fungsi hadis yang paling penting adalah menafsirkan Al-Qur`an dan menetapkan hukum-hukum lain yang tidak terdapat dalam Al-Qur`an. Begitu pentingnya kedudukan hadis, pantas jika salah seorang ulama berkata, “Al-Qur`an lebih membutuhkan kepada Sunnah daripada Sunnah kepada Al-Qur`an.”
Sejak jaman kenabian, hadis adalah ilmu yang mendapat perhatian besar dari kaum muslimin. Hadis mendapat tempat tersendiri di hati para sahabat, tabi’in dan orang-orang yang datang setelah mereka. Setelah Al-Quran, seseorang akan dimuliakan sesuai dengan tingkat keilmuan dan hapalan hadisnya. Karena itu, mereka sangat termotivasi untuk mempelajari dan menghafal hadis-hadis Nabi melalui proses periwayatan. Tidak heran, jika sebagian mereka sanggup menumpuh perjalanan beribu-ribu kilometer demi mencari satu hadis saja.
Penguasaan para ulama terdahulu terhadap hadist begitu luas, sehingga mereka tidak merasa sulit jika disebutkan suatu hadis untuk mengetahuinya dalam kitab-kitab Hadis. Ketika semangat belajar sudah melemah, mereka kesulitan untuk mengetahui tempat-tempat hadist yang dijadikan sebagai rujukan para ulama dalam ilmu-ilmu syar’i. maka sebagian dari ulama bangkit dan memperlihatkan hadis-hadis yang ada pada sebagian kitab dan menjelaskan sumbernya dari kitab-kitab Hadis yang asli, menjelaskan metodenya dan menerangkan hukumnya dari yang shahih atas yang dha’if yang penjelasan tersebut diklasifikasi menjadi ilmu takhrij hadis.

B.  Pengertian Takhrij Hadis
Dalam kamus Lisan al-‘Arab disebutkan definisi takhrij (تَخْرِيجٌ)secara bahasa berasal dari huruf(ر-جخ) yang berarti tampak atau jelas.[1]Menurut Mahmud al-Thahan takhrij adalah dua perkara yang saling berlawanan berkumpul menjadi satuhal.[2]Menurut istilah takhrij hadits adalah penelusuran atau pencarian hadis di berbagai kitab-kitab koleksi hadis sebagai sumber asli dari hadist yang dimaksud, yang di dalam sumber  itu disebutkan secara lengkap matan dan sanad hadis yang bersangkutan. Sedangkan Ilmu takhrij adalah bagian dari ilmu hadis yang membicarakan berbagai kaidah untuk mengetahui sumber hadis itu berasal dan untuk menentukan kualitas sanad hadis dan untuk di tolak atau diterimanya hadis-hadis.
Pengertian takhrij menurut ahli hadis memiliki tiga macam pengertian yaitu:
1.    Usaha mencari sanad hadis yang terdapat dalam kitab hadis karya orang lain, yang tidak sama dengan sanad yang terdapat dalam kitab tersebut. usaha semacam ini dinamakan juga istikhraj. misalnya seseorang mengambil sebuah hadis dari kitab jamius sahih muslim, kemudian ia mencari sanad hadis tersebut yang berbeda dengan sanad yang telah ditetapkan oleh imam muslim
2.    Suatu keterangan bahwa hadis yang dinukilkan ke dalam kitab susunannya itu terdapat dalam kitab lain yang telah disebutkan nama penyusunnya. Misalnya, penyusun hadis mengakhiri penulisan hadisnya dengan kata-kata Akhrajahul Bukhari. Artinya bahwa hadist yang dinukil itu terdapat kitab jamius shahih bukhari. Bila ia mengakhirinya dengan kata Akhrajahul Muslim berarti hadis tersebut terdapat dalam kitab shahih muslim.
3.    Suatu usaha mencari derajat, sanad dan rawi hadis yang tidak diterangkan oleh penyusun atau pengarang suatu kitab.
Misalnya :
1.    Takhrij Ahadisil Kasysyaaf, karyanya Jamaluddin Al-Hanafi adalah suatu kitab yang mengusahakan dan menerangkan derajat  hadis yang terdapat dalam kitab Tafsir Al-Kasysyaaf, yang oleh pengarangnya tidak diterangkan derajat hadisnya, apakah shahih, hasan, atau lainnya.
2.    Al Mugny An Hamlil Asfar, karya Abdurrahim Al-Iraqy, adalah kitab yang menjelaskan derajat-darajat hadis yang terdapat dalam kitab Ihya Ulumuddin karya Al-Ghazali.
Pengertian takhrijul hadis telah mengalami tahap-tahap perkembangan sebagai berikut :
1.    Pada tahap petama takhrij berarti penyebutan hadis-hadis dengan sanadnya masing-masing. Terkadang pengarang menitik beratkan pada masalah sanad atau terkadang pada masalah matan.
2.    Pada tahap kedua istilah takhrij berkembang menjadi penyebutan hadis-hadis dengan sanadnya yang berbeda dengan sanad-sanad yang ada pada kitab kitab hasdit sebelumnya. Umumnya penyebutan sanad-sanad dalam kitab kedua ini ditujukan untuk meratifikasi sanad-sanad yang ada pada kitab pertama.
3.    Pada tahap ketiga, di mana hadis-hadis yang telah dikoleksi dalam kitab-kitab hadis istilah takhrij bermakna perujukan riwayat-riwayat hadis kepada kitab-kitab yang ada.

C.  Sepintas sejarah tentang Takhrij
Dahulu ulama klasik, mulai pada masa sahabat hingga pada abad kelima hijriyah belum mengenal tentang takhrijhadis, sebab penguasan mereka terhadap sumber-sumber sunnah sangat luas. Kontak mereka dengan sumber-sumber asli hadis amat kuat. Dan juga mereka memiliki wawasan yang luas  tentang hadis. Dan tingkat kedhabitan ulama hadis pada saat itu sangat tinggi. Sehingga jika mereka mengutarakan pendapat, mereka dengan mudah menyebutkan hadis yang ada sebagai dasar dan argumentasinya.[3]
Hal demikian hanya berlangsung beberapa abad saja, kajian hadis semakin menurun dan semangat belajar juga mulai melemah.Dan sampai terbatasnya waktu bagi para ulama dan peminat hadis untuk menela’ah kitab-kitab sunnah dan sumber-sumbernya yang asli. Ketika itulah mereka mulai mengalami kesulitan mengetahui letak hadis yang dijadikan penguat oleh para penyusun kitab ilmu-ilmu syar’I dan ilmu-ilmu lainnya. Lalu sebagian ulama (hadis) bangkit. Mereka mentakhrij hadis-hadis yang ada pada sebagian kitab-kitab sunnah yang asli dan mereka menyebutkan metode-metodenya.[4]
            Setelah itu mulailah bermunculan kitab-kitab takhrij hadis, Mahmud al-Thahan menyebutkan bahwa kitab takhrij yang pertama kali adalah Takhrij al-Fawaid al-Muntakhabah al-Shihah wa al-Gharaib yang ditulis oleh Abu al-Qasim al-Husayni. setelah kitab-kitab itu menyebar hingga mencapai puluhan kitab. Dengan demikian ulama hadis telah melakukan usaha besar terhadap kitab-kitab hadis yang mereka takhrij. Kalau saja mereka tidak melakukan usaha tersebut pasti akan terjadi kendala dalam upaya pelestarian kitab-kitab ilmu syar’i. Dan kita juga akan mengalami kesulitan saat merujuk kepada sumber-sumber hadis yang sangat beragam.

D.  Hal yang Mendasar dalam Takhrij Hadis
Mentakhrij matan suatu hadis berarti mengungkap perawi Hadis tersebut dalam kitabnya disertai bab dan hal-hal lainnya yang berkaitan dengan kitab tersebut.Setelah mentakhrij suatu hadis hendaknya kita dapat menjelaskan sekitar hadis tersebut. Mungkin, tentang keshahihannya, ketersambungnya sanadnya dan lain-lain. Ini tentunya dengan cara membandingkan diantara sanad-sanadnya yang ada.
Bila kita dihadapkan mencari hadis dengan sahabat sebagai penerima dari nabi lebih dari satu, maka kita harus mencari sahabat yang meriwayatkannya keseluruhan seperti yang diminta. Seperti ; suatu hadis diriwayatkan oleh ulama hadis dari dua sahabat (A & B). hadits dengan perawi A dikeluarkan oleh Fulan dalam kitabnya (nama kitab kumpulan Hadisnya) dalam bab ini, jilid sekian, halaman sekian, nomor hadits sekian dan lain-lain, dengan menyebutkan nama-nama perawi yang terdapat dalam sanadnya. Adapun hadis dengan perawinya B dikeluarkan oleh Fulan dalam kitabnya (nama kitab hadisnya)  dan seterusnya seperti yang telah disebutkan diatas.
Yang menjadi sasaran pokok mencari hadis adalah materinya. Dan hendaknya kita tidak terkecohkan oleh perbedaan lafal. Selama ada kesamaan sahabat dan kesamaan pengertian dalam susunan kalimatnya, tetap dinamakan hadis. Memang wajar bila dalam suatu hadis terdapat perbedaan kata dalam matan. Imam Zaila’I : “Kewajiban seorang Muhaddis hanyalah membahas materi Hadis dan meneliti perawi yang mengeluarkannya. Adapun perbedaan lafal, tambahan atau pengurangan tidak banyak mempengaruhi”.[5]
Imam Al-Syakhawi berkata : “ Para ahli takhrij tidak berbuat sendiri-sendiri terhadap Hadisnya. Kebanyakan mereka berbuat menurut kitab induk Hadis-hadis tersebut dan begitu pula dengan sanad-sanadnya. Setelah menyelesaikan suatu hadis, mereka berterus terang menisbatkannya kepada, katakanlah, Imam Bukhari atau Imam Muslim atau kepada keduanya, sekalipun terdapat perbedaan lafal dengan beliau berdua. Yang mereka kehendaki hanyalah materi pokok Hadis.
Materi-materi keislaman diantaranya bersumber kepada Sunnah Nabi. Untuk mencari suatu Hadis mengharuskan penggunaan Ilmu Takhrij. Dengan Ilmu Takhrij ini kita akan lebih tahu kitab-kitab hadis yang menjadi pembahasannya.
Takhrij Hadis tidaklah terbatas pada matan Hadis, akan tetapi mencakup :
1.    Mentakhrij Hadis dari berbagai kitab induknya.
2.    Mentakhrij sanad-sanad Hadis beserta biografi dan penilaian terhadap perawi.
3.    Mentakhrij lafal-lafal yang asing melalui kitab-kitab yang berhubungan dengan itu.
4.    Mentakhrij lokasi kejadian dalam Hadis melalui kitab-kitab yang dikarang untuk itu.
5.    Mentakhrij nama-nama karangan melalui kitab-kitab yang diperuntukkan bagi bidangnya.[6]

E.  Tujuan Takhrij
Tujuan takhrij hadits  adalah sebagai berikut :
1.    Menunjukkan sumber Hadis-hadis dan menerangkan ditolak atau diterimanya hadis-hadis tersebut.
2.    Untuk mengetahui asal usul riwayat hadis yang akan diteliti.
3.    Untuk mengetahui seluruh riwayat bagi hadis yang akan diteliti.
4.    Untuk mengetahui ada atau tidak adanya syahid atau mutabi’ pada sanad yang diteliti.[7]

F.   Manfaat Takhrij
Tidak diragukan lagi bahwa mengetahui disiplin ilmu takhrij sangat penting bagi orang yang menggeluti ilmu-ilmu syar’i, mempelajari kaidah-kaidah dan metodenya, agar ia mengetahui bagaimana sampai kepada hadis tersebut pada sumber-sumbernya yang orisinal. Manfaat takhrij sangat besar bagi seseorang yang berkecimpung dalam hadis dan ilmu-ilmu hadits.sebab dengan perantaraannya seseorang mendapat
Petunjuk kepada salah satu sumber hadis pertama yang disusun oleh para tokoh/imam hadis.[8]
Dibawah ini beberapa manfaat yang mempelajari takhrij hadis :
1.    Dapat memberikan informasi bahwa suatu hadis termasuk hadis sahih, hasan, ataupun dhaif, setelah diadakan penelitian dari segi matan maupun sanadnya.
2.    Memberikan kemudahan bagi orang yang mau mengamalkan setelah diketahui bahwa suatu hadis adalah hadis yang maqbul (dapat diterima). Dan sebaliknya, tidak mengamalkannya apabila diketahui bahwa suatu hadis adalah mardud (tertolak).[9]
3.    Menguatkan keyakinan bahwa suatu hadis adalah benar-benar berasal dari Rasulullah SAW. Yang harus kita ikuti karena adanya bukti-bukti yang kuat tentang kebenaran hadis tersebut, baik dari segi sanad maupun matan.
4.    Takhrij memperkenalkan sumber-sumber Hadis, kitab-kitab asal dimana suatu hadis berada beserta Ulama yang meriwayatkannya.
5.    Takhrij dapat menambah perbendaharaan sanad Hadis-hadis melalui kitab-kitab yang ditunjukinya.
6.    Takhrij dapat memperjelas keadaan sanad. Dengan membandingkan riwayat-riwayat hadis yang banyak itu maka dapat diketahui apakah riwayat tersebut munqathi’, mu’dal dan lain sebagainya.
7.    Takhrij memperjelas hukum Hadis dengan banyak riwayatnya.  Terkadang kita dapatkan suatu hadis dhaif melalui satu riwayat, namun dengan takhrij kemungkinan kita akan dapati riwayat lain yang shahih. Hadits yang shahih itu akan mengangkat hukum hadis yang dhaif tersebut ke derajat yang tinggi.
8.    Dengan takhrij kita dapat mengetahui pendapat-pendapat para Ulama sekitar hukum Hadis.
9.    Takhrij dapat memperjelas perawi hadis yang samar. Karena terkadang kita dapati seorang perawi yang belum ada kejelasan namanya, seperti Muhammad, Khalid dan lain-lain. Dengan adanya takhrij kemungkinan kita akan dapat mengetahui nama perawi yang sebenarnya secara lengkap. Takhrij dapat menghilangkan kemungkinan terjadinya percampuran riwayat.[10]

G. Metode Takhrij Hadis
Dalam melakukan takhrij hadis dapat menggunakan beberapa metode untuk melakukan penelusuran terhadap hadis yang akan di takhrij. Metode-metode ini dimaksudkan untuk membantu mempermudah mencari hadis-hadits nabi. sebagai berikut:
a.    Metode takhrij hadis melalui periwayat pertama dalam hadis
Metode ini dapat dilakukan dengan cara mengetahui nama perawi pertama dari kalangan sahabat yang tertera dalam hadis yang akan di takhrij. Setelah mengetahui nama perawinya, langkah selanjutnya yaitu mencari nama perawi tersebut dalam kitab Musnad atau al-Athraf. Selanjutnya setelah menemukan perawi yang sedang dicari, setelah itu pentakhrij harus mencari hadis yang tertera di bawah perawi tersebut.Dan akan diketahui ulama hadis yang telah meriwayatkannya.[11]Dalam hal ini kita membutuhkan tiga macam kitab: Musnad, Mu’jam,dan Al-Athrof.[12]
b.    Metode Takhrij al-Hadis melalui Kata Pertama dalam Matan
Metode Takhrij al-Hadis iniMerupakan metode pencarian hadis melalui lafadz pertama matan suatu hadis yang akan di takhrij. Melalui metode ini pentakhrij harus menghimpun lafadz pertama dari matan hadis yang akan di takhrij berdasarkan dengan huruj hijaiyah.Setelah itu pentakhrij mencari lafadz itu ke dalam kitab-kitab takhrij yang disusun sesuai dengan metode ini berdasarkan huruf pertama, uruf kedua dan seterusnya.[13]Langkah-langkah pencarian pada contoh hadis yang berbunyi من يردالله به خيرkarena awal lafad tersebut adalah huruf “mim” maka pentakhrij harus mencarinya pada bab mim (م). Setelah itu mencari huruf “nun”. Begitupun seterusnya. Kelebihan menggunakan metode ini adalah meskipun kita tidak hafal keseluruhan matan hadis,  kita bisa dengan cepat menemukan/menelusuri hadis yang sedang kita teliti dengan menggunakan lafal pertama akan tetapi, jika terdapat perbedaan lafal pada awal matan dalam hadis itu, maka akan membuat kita kesulitan dalam menemukan hadis tersebut.[14]kitab yang digunakan dalam metode ini adalah Al-Jami’ As-Shaghir Min Hadits Al-Basyir Al-Nadzir.
c.    Metode Takhrijul Hadis dengan tema tertentu
Seorang pentakhrij boleh saja tidak terikat dengan bunyi lafadz pertama pada matan hadis, tetapi berupaya memahami melalui topiknya. Metode ini Merupakan metode pencarian hadis melalui suatu topic permasalahan atau tentang tema tertentu. Misalnya, hadis yang akan diteliti itu mengenai topic anjuran tentang menikah dll.[15]Keunggulan metode ini ialah pentakhrij dituntut untuk memahami tema hadis tersebut dan dapat memperkenalkan pentakhrij tentang hadis-hadis lain yang memiliki tema yang sama. Sedangkan kelemahannya adalah terkadang pentakhrij sulit menyimpulkan tentang topic suatu hadis yang akan ditakhrijnya, dan terkadang pemahaman pentakhrij berbeda dengan pemahaman penyusun kitab, karena penyusun kitab meletakkan suatu hadis pada topic yang tidak diduga oleh pentakhrij.
d.   Metode Takhrij Melalui Kata-kata yang asing dalam Matan Hadis
Metode ini tergantung terhadap kata-kata yang ada di dalam matan hadis yang ingin kita telusuri. Semakin asing suatu kata maka, akan memudahkan kita untuk lebih cepat menemukannya. Metode ini memiliki kelebihan yaitu mempercepat kita dalam mencari Hadis melalui kata-kata apa saja yang terdapat di dalam matan hadis. Akan tetapi kekurangan menggunakan metode ini adalah pentakhrij harus memiliki kemampuan berbahasa Arab, karena metode ini menuntut untuk mengembalikan kata-kata kunci kepada kata dasarnya dan kekurangan lainnya adalah terkadangan suatu hadits tidak dapat ditemukan dengan satu kata kunci, sehingga pentakhrij harus mencari kata kunci lain yang terdapat di dalam matan hadis tersebut.[16]
e.    Takhrij hadis berdasarkan status suatu hadis
Melalui metode ini pentakhrij harus menentukan status hadis terlebih dahulu, misalnya hadis tersebut mutawattir, hadis qudsi, mursal dll. Jika sudah mengetahui status hadis baru kita bisa melacaknya melalui kitab-kitab yang memuat hadis berdasarkan statusnya. Kelebihan metode ini yaitu diantaranya dapat memudahkan kita dalam proses takhrij. karena hadis yang dimuat didalam kitab-kitab takhrij berdasarkan statusnya jumlahnya sangat sedikit dan tidak rumit. Akan tetapi kekurangannya adalah terbatasnya kitab-kitab yang memuat hadis berdasarkan statusnya, dan pentakhrij juga harus bisa memiliki wawasanilmu hadis yang tinggi sehingga bisa menentukan status hadis.[17]

H.  Kitab-kitab yang  digunakan dalam Takhrij Hadis

     Dalam mentakhrij hadis kita membutuhkan kitab-kitab yang bisa membantu kita dalam melakukan takhrij hadis. Berikut ini beberapa kitab tersebut ialah:

a.    Hidayatul Bari ila tartibi Ahadisil Bukhari

Kitab ini disusun oleh Abdur Rahman Ambar Al-Misri At-Tahtawi. Kitab ini disusun untuk membantu pentakhrij dalam menelusuri hadits yang ada di dalam kitab Shahih Al-Bukhori. Lafadzh hadits didukung menggunakan huruf abjad Arab.[18]
b.    Mu’jam Al-Fadzi wala Siyyama Al-Gariibu Minha atau Fuhris litartibi Ahaditsi Shahihi Muslim
Kitab ini merupakan salah satu juz dari kitab Shahih Muslim yaitu juz yang ke-5.
Juz ke-5 ini merupakan kamus dari juz 1-4 yang berisi:
1.    Daftar urutan judul kitab, nomor hadis, dan juga juz yang memuatnya.
2.    Berisi tentang Daftar nama para sahabat Nabi yang meriwayatkan hadis yang ada di dalam kitab Shahih Muslim.
3.    Daftar awal matan hadis tersusun menurut abjad dan juga diterangkan nomor-nomor hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari jika kebetulan hadis tersebut juga diriwayatkan oleh Bukhori.[19]
c.    Miftahus Sahihain
Penyusun kitab ini adalah Muhammad Syarif bin Mustafa Al-Tauqiah. Kitab ini bisa digunakan untuk mencari hadis di dalam kitab Shahih Muslim. Tetapi, kitab ini hanya memuat hadis-hadis qouliyah saja. Hadis itu disusun berdasarkan abjad dari awal lafadz matan hadis.[20]
d.   Al-Jami’us Shagir
Penyusunnya adalah Imam jalaluddin Abdurrahman as-Suyuti. Di dalam kitab kamus ini termuat hadis yang terhimpun dalam kitab himpunan kutipan Hadis yang disusun oleh As-Suyuti juga, yakni kitab Jam’ul Jawani. Hadis dalam kitab ini disusun mulai awal abjad lafadz matan hadis. Beberapa dari hadis-hadis tersebut ditulis secara lengkap dan ada juga yang ditulis sebagian saja, namun telah memiliki pengertian yang cukup. Kitab ini juga menerangkan nama-nama sahabat Nabi yang meriwayatkan hadits tersebutr dan nama-nama mukharijnya. Dan hampir setiap hadis yang dikutip dijelaskan kualitasnya menurut penilaian yang dilakukan atau disetujuo oleh As-Suyuti.[21]
e.    Al-Mu’jam al-Mufahras li al-fazil Hadits nabawi
Kitab ini disusun oleh sekelompok orientalis diantaranya yaitu Dr. Arnold John Wensick. Kitab ini digunakan untuk mencari hadits berdasarkan petunjuk lafadz matan hadis. Oleh karena itu, kitab ini bisa memberikan informasi kepada pencari matan dan sanad hadis, asal saja sebagian dari lafadz matan yang dicari telah kita ketahui. Kitab ini terdiri dari 7 juz.[22]

I.     Takhrij hadis dengan kitab Mu’jam al-Munfaras

Kitab Mu’jam al-Munfaras adalah kitab yang disusun oleh sekelompok orientalis diantaranya yaitu Dr. Arnold John Wensick. Kitab ini digunakan untuk mencari hadits berdasarkan petunjuk lafadz matan hadis.Takhrij hadis dengan kitab Mu’jam al-munfaras ini, dilakukan dengan metode takhrij mengunakan kosa kata asing di dalam suatu matan hadis. Yang mana metode ini mempermudah kita dalam mencari hadis nabi shalallahu ‘alaihi wasalam. Sebagai langkah pertamanya menggunakan kitab ini, yaitu kita mencari terlebih dahulu kosa kata yang asing dakam sebuah matan hadis. sebagai contoh, kita mencari hadis yang berbunyi :


Disini kita memilih kata yang asing ialah سهل , nah setelah itu kita siapkan kitab Mu’jam al-Munfaras, kemudian mencari kata سهلdalam kitab Mu’jam al-Munfaras, sehingga kita akan mendapat hadis tersebut berada di kitab hadis mana saja.

J.    Takhrij hadit dengan komputer
a.    Pencarian berdasarkan nomor
1.    Buka Aplikasi Mausu’at al-Hadith al-Sharif yang telah di instal


2.    Kemudian Klik عرض   kemudian klik رقم الحديت untuk pencarian hadis melalui nomor


3.    Lalu muncul gambar di bawah, setelah itu pilih kitab dan nomor hadis yang kita inginkan misalnya yang kita ambil ialah kitab Muslim nomor 1648 kemudian klik ikon عرض لا حديث

4.    Berikut di bawah ini hasil pencarian dari hadith Imam Muslim nomor 4867




b.    Pencarian berdasarkan kata/kata-kata matan hadith
1.    Klik بحث   kemudian pilih البحث الصرفي sebagaimana gambar di bawah ini


2.    Lalu kita ketik kata-kata matan yang akan kita cari misalnya سلك طريقا lalu klik ikon بحث   dipojok kanan bawah

3.    Apabila software ini diinstalkan pada komputer yang sistem operasinya menggunakan microsoft Windows 7 maka pilihan kata tida terbaca seperti di bawah ini. Dalam situasi ini kita dapat memilih ikon كل الجذور


4.    Kemudian akan tampil hasi pencarian seperti gambar dibawah ini kemudian klik  عرض لموضع


5.    Berikut ini adalah tampilan hadist yang dicari berdasarkan kata-kata matan hadith



K. Penutup
          Dari jurnal diatas dapat disimpulkan bahwa takhrij hadis adalah penelusuran atau pencarian hadis di berbagai kitab-kitab koleksi hadis sebagai sumber asli dari hadis yang dimaksud, yang di dalam kitab  itu disebutkan secara lengkap matan dan sanad hadis tersebut. Takhrij muncul ketika minat kajian ulama hadis semakin menurun dan semangat belajar juga mulai melemah. Dan sampai terbatasnya waktu bagi para ulama dan peminat hadis untuk menela’ah kitab-kitab sunnah dan sumber-sumbernya yang asli. Ketika itulah mereka mulai mengalami kesulitan mengetahui letak hadis yang dijadikan penguat oleh para penyusun kitab ilmu-ilmu syar’I dan ilmu-ilmu lainnya. Lalu sebagian ulama (hadis) bangkit. Mereka mentakhrij hadis-hadis yang ada pada sebagian kitab-kitab sunnah yang asli. Salah satu tujuan adanya takhrij hadis adalah untuk Menunjukkan sumber Hadis-hadis dan menerangkan ditolak atau diterimanya hadis-hadis tersebut. Takhrij hadis memiliki beberapa manfaat yaitu Dapat memberikan informasi bahwa suatu hadis termasuk hadis sahih, hasan, ataupun dhaif, setelah diadakan penelitian dari segi matan maupun sanadnya. Takhrij hadis memiliki beberapa manfaat diantaranya yaitu Dapat memberikan informasi bahwa suatu hadis termasuk hadis sahih, hasan, ataupun dhaif, setelah diadakan penelitian dari segi matan maupun sanadnya. Memberikan kemudahan bagi orang yang mau mengamalkan setelah diketahui bahwa suatu hadis adalah hadis yang maqbul (dapat diterima). Dan sebaliknya, tidak mengamalkannya apabila diketahui bahwa suatu hadis adalah mardud (tertolak). Beberapa metode yang bisa kita gunakan pada saat mentakhrij diantaranya yaitu Metode takhrij hadis melalui periwayat pertama dalam hadits, Metode Takhrij al-Hadis melalui Kata Pertama dalam Matan, Metode Takhrijul Hadis dengan tema tertentu, Metode Takhrij Melalui Kata-kata yang asing dalam Matan Hadis, Takhrij hadits berdasarkan status suatu hadis.

DAFTAR PUSTAKA
M. Noor Sulaiman PL. 2008. Antologi Ilmu Hadits.Jakarta: Gaung Persada Press
Andi Rahman. 2016. Pengenalan Atas Takhrij Hadis.Jakarta : Jurnal studi hadis.  Vol.2,  No.1
Mahmud Al Thihhan. 2010. Dasar-Dasar Ilmu Takhrij, terj. Agil Husin Al-Munawar & Masykur Hakim. Semarang: Dina Utama
Abu Muhammad Mahdi bin Abdul Qadir bin Abdul Hadi Daar al-I’tishaam. 1994. Metode Takhrij Hadits. terj. S Agil Husin Munawwar dan Ahmad Rifqi Muchtar. Semarang: Dina Utama
Masykur Bachtiar Fachrurozi. 2009. Takhrij Al-Hadits. Yogyakarta: Aditya Media
Tahuma Haris Wahyudi dan Imron Rosyadi.Hadis-Ilmu Hadiskelas X. Mojokerto: Mutiara Ilmu
Rofiah, Khusniati. 2010. Studi Ilmu Hadith. Ponorogo: STAIN PO Press
M. Solahuddin & Agus Suyadi. 2008.Ulumul Hadis. Bandung: Pustaka
Anwar, Ali. 2011. Takhrij Al-Hadith Dengan Komputer. Kediri : Pustaka Pelajar
Tajidun Nur dan debibik nabilatul Fauziah, Pengenalan Metode Takhrij Hadits Dalam Upaya meningkatkan kompetensi Dosen Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Singaperbangsa Karawang. Jurnal Pendidikan:  Karawang




[1]Tajidun Nur dan debibik nabilatul Fauziah, Pengenalan Metode Takhrij Hadis Dalam Upaya meningkatkan kompetensi Dosen Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Singaperbangsa Karawang. Jurnal Pendidikan:  Karawang
[2]M. Noor Sulaiman PL, Antologi Ilmu Hadis,(Jakarta: Gaung Persada Press, 2008), hlm.155
[3]Andi Rahman, Pengenalan Atas Takhrij Hadis, Riwayah: Jurnal studi hadis, Jakarta:PTIQ Vol.2,  No.1, 2016
[4]Mahmud Al Thihhan, Dasar-Dasar Ilmu Takhrij, terj. Agil Husin Al-Munawar & Masykur Hakim, (Semarang: Dina Utama, 1995), Hlm. 40
[5]Abu Muhammad Mahdi bin Abdul Qadir bin Abdul Hadi Daar al-I’tishaam, Metode Takhrij Hadits, terj. S Agil Husin Munawwar dan Ahmad Rifqi Muchtar, (semarang: Dina Utama, 1994), hlm.13
[6]Ibid, hlm.17
[7]Masykur Bachtiar Fachrurozi, Takhrij Al-Hadits, (Yogyakarta: CV. Aditya Media, 2009), hlm.7

[8]Mahmud Al Thihhan, Op.cit.,Dasar-Dasar Ilmu Takhrij, terj. Agil Husin Al-Munawar & Masykur Hakim, (Semarang: Dina Utama, 1995), Hlm. 21
[9]Tahuma Haris Wahyudi dan Imron Rosyadi, Hadis-Ilmu Hadiskelas X, (Mojokerto: Mutiara Ilmu), hlm. 74
[10]Abu Muhammad Mahdi bin Abdul Qadir bin Abdul Hadi Daar al-I’tishaam, Metode Takhrij Hadis, terj. S Agil Husin Munawwar dan Ahmad Rifqi Muchtar, (semarang: Dina Utama, 1994), hlm.5                                                                                      
[11]Khusniati Rofiah, Studi Ilmu Hadith, (Ponorogo: STAIN PO Press, 2010), Hlm.169
[12]Abu Muhammad Mahdi bin Abdul Qadir bin Abdul Hadi Daar al-I’tishaam, Op.cit., hlm. 40
[13]Ibid, hlm. 17
[14] Ibid
[15]Masykur Bachtiar Fachrurozi. Takhrij Al-Hadits (Yogyakarta: CV. Aditya Media, 2009), Hlm. 7
[16]Abu Muhammad Mahdi bin Abdul Qadir bin Abdul Hadi Daar al-I’tishaam, Op.cit, hlm.60
[17]Khusniati Rofiah, Studi Ilmu Hadith,  (Ponorogo: STAIN PO Press, 2010), hlm.175.
[18]Masykur Bachtiar Fachrurozi, Takhrij Al-Hadits (Yogyakarta: CV Aditya Media, 2009), hlm. 8
[19]Ibid
[20]M. Solahuddin & Agus Suyadi, Ulumul Hadis ( Bandung: CV PUSTAKA, 2008), hlm. 194
[21]Ibid
[22]Ibid

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PUASA TASU’AH DAN ‘ASYURA DALAM ISLAM

PUASA TASU’AH DAN ‘ASYURA Oleh: Ali Hasan Assidiqi A.   PENGERTIAN DAN HUKUM DALILNYA 1.     Puasa Tasu’ah (9 Muharram) Tasu’ah b...