Jumat, 03 Agustus 2018

KEBERHASILAN DAN KEMUNDURAN BANI ABBSIYAH

KEBERHASILAN DAN KEMUNDURAN
BANI ABBSIYAH

Oleh: Mohammad ‘aadil (16110057)

Bani abbasiyah telah berkuasa kurang lebih 5 abad lamanya, dan telah memberikan banyak kontribusi banyak dalam hal peradaban islam dan pengembangan ilmu pengetahuan. Kira-kira sebanyak 37 orang yang pernah berkuasa di bani abbasiyah ini. Ada sejumlah khalifah yang menaruh perhatian lebih terhadap meningkatan ilmu pengetahuan dan peradaban islam. Juga berbagai macam bidang lainya, misalnya bidang sosial dan budaya dan sebagainya.[1]

Keberhasilan Bani abbasiyah:

Adapun keberhasilan ban abbasiyah antara lain:
·      Pendidikan
·      Ekonomi

1)   PENDIDIKAN

Terdapat berbagai macam usaha yang di lakukan bani abbasiyah menyangkut kemajuan dan pertumbuhan peradaban islam, peradaban-peradaban tersebut pada dasarnya melahirkan akulturasi dari peradaban islaam dan peradaban lainya lebih-lebih persia atau yunani di antaranya:

1.      Gerakan penerjemah
Di abad 9-M, bani abbasiyah telah melakukan penerjemahan besar-besaran buku dalam melakukan penerjemahan tersebut orang-orang yahudi, kristen dan juga orang-orang islam ikut aktif dalam penerjmahan.
Mereka menerjemahkan buku-buku yang dalam bahasa yunani dan persia kedalam bahsa arab. Para ilmuwan di kirim ke Bizantium guna mencari naskah-naskah, buku-buku Yunani dalam bernagai ilmu lebih-lebih yang terpenting ilmu filsafat dan kedokteran. Sedangkan pencarian naskah-naskah di daerah timur misalnya persia, yaitu di bidang tata negara dan sastra. Sebelum di terjemahkan ke dalam bahasa arab, naskah-naskah yanng berbahasa yunani di terjemahkan dahulu kedalam bahsa syiria. Keadaan tersebut di sebabkan karena para penerjemah ialah pendeta kristen yang bisa berbahasa yunani.
Yang menjadi para penerjemah ialah, Khalifah Al-Mansur dengan menggunakan tenaga orang-orang persia guna menerjemahkan karya-karya berbahasa persia di antaranya adalah: Buku tentang ketatanegaraan (Kalila wa Dimnadan Shindind). Sedangkan karya yang berbahasa yunani, misalnya logika karya aristoteles, Almagest karya Ptolemy, Arithmetic karya Nicomachu dari Gerasa, Geometri karya Euclid.
Di masa Harun Al-Rasyid, terkenal dengan Yuhanna Yahya ibn Masawayh (w.857) yang menerjemahkan sejumlah naskah tentang keokteran yang di bawa oleh khalifah dari Ankara dan Amorium. Di masa Mkamun terkenal dengan Hunayn ibnu Ishaq. (Joannitius, 809-873) ia dijuluki “ketua para penerjemah” (sebutan orang Arab), salah seorang yang masyhur. Makmun menjadikanya sebgai pengawas perpustakaanya, dan dia di tugaskan untuk menerjemahkan naskah-nakskah ilmiyah, dia dibantu oleh anaknya yang bernama dan keponakannya Hubaisy ib al-Hasan yang telah ia latih.

2.      Aktifitas kreatif karya-karya orisinil
Setelah di adakanya penerjemhan besar besaran yang di lakkukan oleh di nasti abbasiyah,gerakan selanjutnya adalah menciptakan penulisan karya
–karya orisinil. Penulisan karya-karya tersebut melahirkan beberapa tokoh yang mendalami bidang mereka masing-masing.
Di bidang kedokteran beberapa tokoh yang muncul seperti Ali ibn SahlRabban al-Thabari, pertengahan abad ke sembilan; Abu Bakr Muh ibn Zakariyya al-Razi (Rhazes, 865-925); Ali ibn al Abbas (w.994); Ibn Sina, 980-1037.

Para filosof muslim seperti al kindi, al farabi, ibn sina.
3.      Sistem pendidikan abbasiyah
Dalam pendidiknya abbasiyah menerapkan sistem pendidikan klasik, berdasarkan kriteia hubungan institusi
pendidikan dengan negara yang berbentuk teokrasi.
Bani abbasiyah memeperlihatkan dari berbagai catatan sejarah bagaimana pentingnya penddikan, antara lain:
1.      Lembaga dan intuisi pendidikan dimas abani abbasiyah
a.       Lembaga pendidikan sebelum madrasah
b.      Madrasah
2.      Tujuan pendidikan bani abbasiyah
Tujuan pendidikan bani abbaasiyah, antara lain:
a.       Tujan keagamaan dan akhlaq
b.      Tujuan kemasyarakatan
c.       Cint akan ilmu keagamaan
d.      Tujuan kebendaan.[2]

2)      EKONOMI

Bidang ekonomi adalah masalah yang sentral pada suatu negara. Tanpa adanya dukungan ekonomi yang signifikan tidak mngkin suatu negara dapat maju.
Pada awal berkuasanya bani abbasiyah, para petinggi angat memperhatikan tentang perekonomian negara. Sektor-sektor perekonomian bani abbasiyah antara lain:.
a.       Pertanian
b.      Perindustrian
c.   perdagangan.[3]

Kemunduran bani abbasiyah:

Faktor internal
1.      kemunduran politik
ada berbagai macam faktor yang menjadi kemunduran politik pada saat itu, yang di sebabkan oleh:
a.       kelemahan kholifah
b.      terjadinya di sintegrasi.[4]
c.       persaingan antar bangsa
2.      kemerosotan ekonomi
3.      konflik keagamaan

Faktor eksternal
1.      perang salib
ada beberapa faktor yang menyebabkan perang salib, antara lain:
a.       faktor agama
b.      faktor politik
c.       faaktor sosial ekonomi
2.      serangan mongol ke wilayah kekuasaan islam
3.      berdiri turki usmani.[5]

Daftar Pustaka
M. Husain Tuanaya, Miftachul Ula, Mariyah Ulfah, SEJARAH KEBUDAYAAN ISLAM
(Jakarta, kementrian agama) hal.90
Rustomo, “DINASTI ABBASIYAH (KEMAJUAN DAN KEMUNDURANNYA)” di akses
dari,  http://blongspot.com/dinasti-abbasiyah.html
Mahros, serly, ” Kebangkitan Pendidikan Bani Abbasiyah Perspektif Sejarah Pendidikan
Islam” di akses dari, http://id.portalgaruda.org/?ref=browse&mod=viewarticle&article=345813
Farah, naila “PERKEMBANGAN EKONOMI DAN ADMINISTRASIPADA MASA BANI
UMAYYAH DAN BANI ABBASIYAH” di akses dari,
http://id.portalgaruda.org/?ref=browse&mod=viewarticle&article=447078
Syaharuddin, “Disintegrasi Politik pada Masa Dinasti Bani Abbasiyah” di akses dari,
http://repositori.uin-alauddin.ac.id/5905/







[1] Rustomo, “DINASTI ABBASIYAH (KEMAJUAN DAN KEMUNDURANNYA)” di akses dari,  http://blongspot.com/dinasti-abbasiyah.html

[2] Mahros, serly, ” Kebangkitan Pendidikan Bani Abbasiyah Perspektif Sejarah Pendidikan Islam” di akses dari, http://id.portalgaruda.org/?ref=browse&mod=viewarticle&article=345813
[3] Farah, naila “PERKEMBANGAN EKONOMI DAN ADMINISTRASIPADA MASA BANI UMAYYAH DAN BANI ABBASIYAH” di akses dari, http://id.portalgaruda.org/?ref=browse&mod=viewarticle&article=447078
[4] Syaharuddin, “Disintegrasi Politik pada Masa Dinasti Bani Abbasiyah” di akses dari, http://repositori.uin-alauddin.ac.id/5905/
[5] M. Husain Tuanaya, Miftachul Ula, Mariyah Ulfah, SEJARAH KEBUDAYAAN ISLAM (Jakarta, kementrian agama) hal.90

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PUASA TASU’AH DAN ‘ASYURA DALAM ISLAM

PUASA TASU’AH DAN ‘ASYURA Oleh: Ali Hasan Assidiqi A.   PENGERTIAN DAN HUKUM DALILNYA 1.     Puasa Tasu’ah (9 Muharram) Tasu’ah b...