Jumat, 03 Agustus 2018

KEPRIBADIAN NABI MUHAMMAD SAW.

KEPRIBADIAN NABI MUHAMMAD SAW.
( Kesabaran, Ketabahan dan Keperwiraan)

Oleh: Muhamad Muhibbin (16110014)
(Mahasiswa PAI-B UIN Maulana Malik Ibrahim Malang)

Jika kita membahas tentang kesabaran dan penderitaan yang dialami oleh Rasulullah saw, berarti kita juga akan membahas tentang hal terpenting yang kita butuhkan dalam fase kehidupan kita yang pertama, yaitu di dunia. Rasulullah saw merupakan tauladan tertinggi dalam kesabaran dan ketabahan, seperti yang tercermin dalam riwayat-riwayat berikut ini.  
Bukhari meriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud, dia berkata “Kami bersama Rasulullah sholat di Masjidil Haram dan beliau sedang sholat. Abu Jahal berkata “Tidakkah ada orang yang mau mengambil tahi unta kemudian melemparkannya ke arah Muhammad yang sedang sujud?” Maka kemudian Uqbah bin Abu Mu’ith berdiri dengan membawa tahi unta lalu melemparkannya ke arah Rasulullah yang sedang sholat dalam keadaan sujud. Tidak ada seorang muslim pun di masjid itu yang bisa mencegahnya karena lemahnya kekuatan mereka (umat islam) untuk membalas musuh mereka. Rasulullah tetap sujud sampai akhirnya Fatimah anak pertamanya datang lalu membersihkannya.[1]
Cerita yang sama, Bukhari meriwayatkan dalam Shahihnya, “Ketika Rasulullah berada di pintu Ka’bah, tiba-tiba Uqbah bin Abu Mu’ith mengintainya, lalu dia meletakkan pakaiannya ke leher Rasulullah dan mencekiknya dengan keras, hingga akhirnya Abu Bakar datang untuk menolong dan melindungi Rasulullah seraya membaca firman Allah, “Apakah kamu akan membunuh seorang laki-laki karena dia menyatakan: ‘Tuhanku ialah Allah, padahal dia telah datang kepadamu dengan membawa keterangan-keterangan dari Tuhanmu.”
Masih banyak contoh-contoh kesabaran Rasulullah saw. Lainnya sebagaimana termaktub dalam kitab-kitab sirah nabawiyah.[2]
Suatu hari Abu Jahal bertemu dengan Rasulullah saw di bukit Shafa, kemudian Abu Jahal menyakiti dan mencela Rasulullah saw dan juga membuka aib-aib umat islam yang tidak disukainya. Rasulullah saw pun tetap bersabar dan tidak membalasnya. Pada saat itu, ada seorang budak perempuan Abdullah bin Jad’an yang melihat dan mendengar celaan Abu Jahal tersebut kepada Rasulullah saw. Setelah itu, Rasulullah saw berpaling dari Abu Jahal lalu pulang ke rumahnya.
Sementara itu, Hamzah bin Abdul Muthalib baru saja pulang dari berburu sambil menenteng panahnya. Hamzah adalah paman Rasulullah, seorang pemuda suku Quraisy yang paling dihormati dan yang paling kuat. Ketika dia bertemu dengan budak perempuan Abdullah bin Jad’an itu, dia berkata kepada Hamzah, “Hai Abu Umarah, seandainya saja engkaumelihat apa yang telah diperbuat oleh Abu Jahal kepada sepupumuyaitu Muhammad beberapa waktu yang lalu. Abu Jahal melihat Muhammad duduk di sini,lalu kemudian Abu Jahal meghina, memaki dan mencacinya sampai melampaui batas. Lalu kemudian beliau berpaling dari Abu Jahal tanpa membalasnya.”
Hamzah pun merasa sangat sakit hati dengan hal tersebut. Lalu kemudian dia bergegas pergi untuk memberi peringatan kepada Abu Jahal. Hamzah mendapati Abu Jahal sedang berkumpul dengan kaumnya, kemudian Hamzah menuju ke arahnya dan dan mengangkat anak panahnya lalu memukul dan melukai Abu Jahal. Hamzah berkata, “Apakah engkau mencela Muhammad? Saya telah memeluk agamanya dan saya akan mengatakan apa yang dikatakan Muhammad. Maka lawanlah aku kalau engkau bisa!”
Lalu kemudian orang-orang Bani Mahzum berdiri menghadap Hamzah untuk menolong Abu Jahal darinya. Mereka berkata, “Hai Hamzah, kami sungguh telah malihatmu masuk Islam!” Hamzah menjawab, “Siapa yang akan melarangku? Telah tumbuh keyakinan dalam diriku bahwa dia adalah Rasulullah dan apa yang dikatakannya adalah kebenaran.”
Abu Jahal berkata, “Tinggalkan Abu Umarah, demi Allah saya telah mengumpat keponakannya dengan umpatan yang paling buruk.” Hamzah pun tetap pada keyakinannya dan orang-orang Quraisy mengetahui bahwa Islam telah mendapat kekuatan dengan keislaman Hamzah, dan paman Rasulullah tersebut akan melindungi Islam, sehingga mereka menghentikan semua perlakuan buruk yang telah mereka lakukan terhadap Rasulullah saw selama ini. Karena itu, hendaklah kita berhias dengan kesabaran seperti Rasulullah saw.[3]
Selanjutnya tentang keperwiraan Rasulullah saw, kata keperwiraan sendiri berasal dari kata “perwira” yang artinya gagah berani. Keperwiraan berarti keberanian Rasulullah dalam berperang. Banyak contoh keperwiraan Rasulullah saw dalam berperang melawan orang-orang kafir Quraisy, seperti dalam salah satu perang yaitu perang Badar. [4]
Perang Badar terjadi tanggal 17 Ramadhan tahun 2 H bertepatan dengan tanggal 8 Januari 623 M. Perang ini terjadi di dekat sebuah sumur milik Badar yang terletak diantara Mekah dan Madinah. Kaum muslimin berjumlah 313 orang sedangkan kafir Quraisy 1000 orang yang lengkap dengan perlengkapan persenjataannya dan peralatannya. Sedangkan kaum muslimin dengan senjata seadanya. Mengetahui hal itu, Rasulullah saw dan umat muslim tidak gentar sedikitpun. Karena mereka percaya Allah telah menjanjikan kemenangan kepada mereka semua.[5]
Peperangan dimulai dengan pertarungan satu lawan satu dari pihak kaum muslim diwakili oleh 3 orang yaitu Ubaidah bin Harits, Ali bin Abi Thalib dan Hamzah bin Abdul Muthalib. Sedangkan dari kafir Quraisy yaitu Utbah, Syaibah bin Rabiah dan Al-Walid Utbah. Dalam pertarungan ini Utbah melawan Hamzah, Ubaidah bin Harits melawan Syaibah bin Rabiah dan Ali bin Abi Thalib melawan Al-Walid Utbah. Lalu kemudian ketiga pahlawan Quraisy itu mati. Setelah pertarungan itu selesai, pasukan kaum kafir Quraisy yang di pimpin oleh Abu Jahal langsung menyerang pasukan kaum muslim. Akhirnya dengan pertolongan Allah swt umat muslim memenangkan peperangan ini.[6]

Daftar Pustaka
Sulaiman, Muh. Asnawi, Sugiyono, Moh. 2014. Buku Siswa Sejarah Kebudayaan Islam kelas
10. Jakarta : Kementerian Agama.
Abidin, Mumirul dan Farhan. 2007.  Sifat dan Pribadi Muhammad, Jakarta Selatan: Senayan
Publishing.
Waris, Andy. 2004. Rasul sebuah novel sejarah, Bandung: Remaja Rosdakarya.
Susmhira and Rahmat. 2013. Sejarah Islam Klasik, Yogyakarta: Ombak.
Salman. 2014. Inilah Rasul, Jakarta: Mutiara Publishing.





[1] Susmhira and Rahmat, Sejarah Islam Klasik, Yogyakarta: Ombak, 2013, hlm 143-145
[2] Mumirul Abidin dan Farhan, Sifat dan Pribadi Muhammad, Jakarta Selatan: Senayan Publishing, 2007, hlm. 320-321
[3] Mumirul Abidin dan Farhan, Sifat dan Pribadi Muhammad, hlm 322
[4] Salman. Inilah Rasul, Jakarta: Mutiara Publishing, 2014, hlm 18
[5] Muh. Asnawi, Sugiyono, Moh. Sulaiman, Buku Siswa Sejarah Kebudayaan Islam kelas 10, Jakarta : Kementerian Agama, 2014, 36
[6] Andy Waris, Rasul sebuah novel sejarah, Bandung: Remaja Rosdakarya, 2004, hlm. 279-280

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PUASA TASU’AH DAN ‘ASYURA DALAM ISLAM

PUASA TASU’AH DAN ‘ASYURA Oleh: Ali Hasan Assidiqi A.   PENGERTIAN DAN HUKUM DALILNYA 1.     Puasa Tasu’ah (9 Muharram) Tasu’ah b...