KEPRIBADIAN NABI MUHAMMAD SAW.
(
Kesabaran, Ketabahan dan Keperwiraan)
Oleh: Muhamad
Muhibbin (16110014)
(Mahasiswa
PAI-B UIN Maulana Malik Ibrahim Malang)
Jika kita membahas tentang kesabaran dan penderitaan yang dialami
oleh Rasulullah saw, berarti kita juga akan membahas tentang hal terpenting
yang kita butuhkan dalam fase kehidupan kita yang pertama, yaitu di dunia.
Rasulullah saw merupakan tauladan tertinggi dalam kesabaran dan ketabahan,
seperti yang tercermin dalam riwayat-riwayat berikut ini.
Bukhari
meriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud, dia berkata “Kami bersama Rasulullah sholat di Masjidil Haram dan beliau sedang sholat. Abu
Jahal berkata “Tidakkah ada orang yang mau mengambil tahi unta kemudian
melemparkannya ke arah Muhammad yang sedang sujud?” Maka kemudian Uqbah bin Abu
Mu’ith berdiri dengan membawa tahi unta lalu melemparkannya ke arah Rasulullah
yang sedang sholat dalam keadaan sujud. Tidak ada seorang muslim pun di masjid
itu yang bisa mencegahnya karena lemahnya kekuatan mereka (umat islam) untuk
membalas musuh mereka. Rasulullah tetap sujud sampai akhirnya Fatimah anak
pertamanya datang lalu membersihkannya.[1]
Cerita yang sama, Bukhari meriwayatkan dalam Shahihnya, “Ketika
Rasulullah berada di pintu Ka’bah, tiba-tiba Uqbah bin Abu Mu’ith mengintainya,
lalu dia meletakkan pakaiannya ke leher Rasulullah dan mencekiknya dengan
keras, hingga akhirnya Abu Bakar datang untuk menolong dan melindungi
Rasulullah seraya membaca firman Allah, “Apakah kamu akan membunuh seorang
laki-laki karena dia menyatakan: ‘Tuhanku ialah Allah, padahal dia telah datang
kepadamu dengan membawa keterangan-keterangan dari Tuhanmu.”
Masih banyak contoh-contoh kesabaran Rasulullah saw. Lainnya
sebagaimana termaktub dalam kitab-kitab sirah nabawiyah.[2]
Suatu hari Abu Jahal bertemu dengan Rasulullah saw di bukit Shafa,
kemudian Abu Jahal menyakiti dan mencela Rasulullah saw dan juga membuka
aib-aib umat islam yang tidak disukainya. Rasulullah saw pun tetap bersabar dan
tidak membalasnya. Pada saat itu, ada seorang budak perempuan Abdullah bin
Jad’an yang melihat dan mendengar celaan Abu Jahal tersebut kepada Rasulullah
saw. Setelah itu, Rasulullah saw berpaling dari Abu Jahal lalu pulang ke
rumahnya.
Sementara itu, Hamzah bin Abdul Muthalib baru saja pulang dari berburu
sambil menenteng panahnya. Hamzah adalah paman Rasulullah, seorang pemuda suku
Quraisy yang paling dihormati dan yang paling kuat. Ketika dia bertemu dengan
budak perempuan Abdullah bin Jad’an itu, dia berkata kepada Hamzah, “Hai Abu
Umarah, seandainya saja engkaumelihat apa yang telah diperbuat oleh Abu Jahal
kepada sepupumuyaitu Muhammad beberapa waktu yang lalu. Abu Jahal melihat
Muhammad duduk di sini,lalu kemudian Abu Jahal meghina, memaki dan mencacinya
sampai melampaui batas. Lalu kemudian beliau berpaling dari Abu Jahal tanpa
membalasnya.”
Hamzah pun merasa sangat sakit hati dengan hal tersebut. Lalu
kemudian dia bergegas pergi untuk memberi peringatan kepada Abu Jahal. Hamzah
mendapati Abu Jahal sedang berkumpul dengan kaumnya, kemudian Hamzah menuju ke
arahnya dan dan mengangkat anak panahnya lalu memukul dan melukai Abu Jahal.
Hamzah berkata, “Apakah engkau mencela Muhammad? Saya telah memeluk agamanya
dan saya akan mengatakan apa yang dikatakan Muhammad. Maka lawanlah aku kalau
engkau bisa!”
Lalu kemudian orang-orang Bani Mahzum berdiri menghadap Hamzah
untuk menolong Abu Jahal darinya. Mereka berkata, “Hai Hamzah, kami sungguh
telah malihatmu masuk Islam!” Hamzah menjawab, “Siapa yang akan melarangku?
Telah tumbuh keyakinan dalam diriku bahwa dia adalah Rasulullah dan apa yang
dikatakannya adalah kebenaran.”
Abu Jahal berkata, “Tinggalkan Abu Umarah, demi Allah saya telah
mengumpat keponakannya dengan umpatan yang paling buruk.” Hamzah pun tetap pada
keyakinannya dan orang-orang Quraisy mengetahui bahwa Islam telah mendapat
kekuatan dengan keislaman Hamzah, dan paman Rasulullah tersebut akan melindungi
Islam, sehingga mereka menghentikan semua perlakuan buruk yang telah mereka
lakukan terhadap Rasulullah saw selama ini. Karena itu, hendaklah kita berhias
dengan kesabaran seperti Rasulullah saw.[3]
Selanjutnya tentang keperwiraan Rasulullah saw, kata keperwiraan
sendiri berasal dari kata “perwira” yang artinya gagah berani. Keperwiraan
berarti keberanian Rasulullah dalam berperang. Banyak contoh keperwiraan
Rasulullah saw dalam berperang melawan orang-orang kafir Quraisy, seperti dalam
salah satu perang yaitu perang Badar. [4]
Perang Badar terjadi tanggal 17 Ramadhan tahun 2 H bertepatan
dengan tanggal 8 Januari 623 M. Perang ini terjadi di dekat sebuah sumur milik
Badar yang terletak diantara Mekah dan Madinah. Kaum muslimin berjumlah 313
orang sedangkan kafir Quraisy 1000 orang yang lengkap dengan perlengkapan
persenjataannya dan peralatannya. Sedangkan kaum muslimin dengan senjata
seadanya. Mengetahui hal itu, Rasulullah saw dan umat muslim tidak gentar
sedikitpun. Karena mereka percaya Allah telah menjanjikan kemenangan kepada
mereka semua.[5]
Peperangan dimulai dengan pertarungan satu lawan satu dari pihak
kaum muslim diwakili oleh 3 orang yaitu Ubaidah bin Harits, Ali bin Abi Thalib
dan Hamzah bin Abdul Muthalib. Sedangkan dari kafir Quraisy yaitu Utbah,
Syaibah bin Rabiah dan Al-Walid Utbah. Dalam pertarungan ini Utbah melawan
Hamzah, Ubaidah bin Harits melawan Syaibah bin Rabiah dan Ali bin Abi Thalib
melawan Al-Walid Utbah. Lalu kemudian ketiga pahlawan Quraisy itu mati. Setelah
pertarungan itu selesai, pasukan kaum kafir Quraisy yang di pimpin oleh Abu
Jahal langsung menyerang pasukan kaum muslim. Akhirnya dengan pertolongan Allah
swt umat muslim memenangkan peperangan ini.[6]
Daftar Pustaka
Sulaiman, Muh.
Asnawi, Sugiyono, Moh. 2014. Buku Siswa Sejarah Kebudayaan Islam kelas
10. Jakarta : Kementerian Agama.
Abidin, Mumirul dan Farhan. 2007.
Sifat dan Pribadi Muhammad, Jakarta Selatan: Senayan
Publishing.
Waris, Andy. 2004. Rasul sebuah novel sejarah, Bandung:
Remaja Rosdakarya.
Susmhira and Rahmat. 2013. Sejarah Islam Klasik, Yogyakarta:
Ombak.
Salman. 2014.
Inilah Rasul, Jakarta: Mutiara Publishing.
[1] Susmhira and
Rahmat, Sejarah Islam Klasik, Yogyakarta: Ombak, 2013, hlm 143-145
[2] Mumirul Abidin
dan Farhan, Sifat dan Pribadi Muhammad, Jakarta Selatan: Senayan
Publishing, 2007, hlm. 320-321
[3] Mumirul Abidin
dan Farhan, Sifat dan Pribadi Muhammad, hlm 322
[4]
Salman. Inilah Rasul, Jakarta: Mutiara Publishing, 2014, hlm 18
[5] Muh.
Asnawi, Sugiyono, Moh. Sulaiman, Buku Siswa Sejarah Kebudayaan Islam kelas
10, Jakarta : Kementerian Agama, 2014, 36
[6] Andy Waris, Rasul
sebuah novel sejarah, Bandung: Remaja Rosdakarya, 2004, hlm. 279-280
Tidak ada komentar:
Posting Komentar