PROSES
ISLAMISASI DAN PERBANDINGAN JUMLAH ASSABIQUNAL AWWALUN DALAM PROSES DAKWAH
SECARA SEMBUNYI-SEMBUNYI PADA PERIODE MEKKAH
Oleh :
Ayu Nova Hidayati (16110073)
Pada periode Mekkah Nabi melakukan
dakwah secara sembunyi-sembunyi selama 3 sampai 4 tahun lamanya. Setelah
diturunkan ayat yang memerintahkan Nabi Muhammad SAW untuk menyebarkan ajaran
Islam kepada kerabat terdekat pada QS Asy-Syu’ara ayat 214[1],
Maka Nabi memulai menyebarkan ajaran Islam terhadap kaum kerabat yang nantinya
disebut dengan Assabiqunal Awwalun atau yang berarti orang-orang yang pertama
kali masuk Islam.
Dalam beberapa sumber telah banyak di
sebutkan jumlah dari Assabiqunal Awwalun, dalam kitab Tahdzib Sirah Nabawiyah
Ibnu Hisyam[2]
dan kitab Nurul Yaqien[3]
disebutkan jumlah dari Assabiqunal Awwalun adalah sebanyak 51 sahabat, adapun
dalam buku Sejarah Kebudayaan Islam yang dikeluarkan oleh Kemeterian Agama Republik
Indonesia pada tahun 2014[4],
jumlah dari Assabiqunal Awwalun yaitu terdiri atas 27 sahabat. Adapaun dalam
buku-buku pada umumnya telah disebutkan jumlah dari Assabiqunal Awwalun sendiri
terdiri atas 10 sampai 13 sahabat.Adapun menurut penulis sendiri bahwa jumlah
yang disebutkan di atas dalam beberapa sumber semua itu benar. Tetapi disini
penulis akan mencoba untuk menggolongkan atau mengkronologikan proses
Islamisasi dalam keluarga Nabi, kerabat dan para sahabat Nabi. Dalam penyebaran
ajaran Islam dilakukan secara bertahap, karena pada saat zaman Nabi Muhammad
SAW agama dan kepercayaannnya sangatlah kental sehingga jika ada agama baru,
akan banyak terjadi pertentangan dimana-mana, maka dari itu penyebaran ajaran
Islam dilakukan melalui keluarga, kerabat dan sahabat terdekat beliau.
Pada saat Nabi Muhammad SAW
diperintahkan untuk menyebarkan ajaran Islam, maka yang pertama kali meyakini
dan mendukung Nabi Muhammad SAW yaitu istrinya sendiri, Khadijah binti
Khuwalid. Khadijah merupakan orang yang pertama kali beriman kepada Allah, dan
Allah menjadikan Khadijah sebagai pelipur lara bagi Nabi Muhammad SAW, karena
jika Nabi dalam masalah maka Khadijahlah yang selalu menghibur beliau, bahkan
Khadijah juga telah menginfakkan hartanya untuk
membela ajaran Islam dan membantu Nabi dalam menjalankan misi dakwahnya.
Saat Nabi mengerjakan shalat dengan Khadijah, Ali bin Abi Thalib mengetahui apa
yang dilakukan Nabi dengan siti Khadijah. Ali bin Abi Thalib merupakan sepupu
Nabi Muhammad SAW yang tinggal di rumah beliau sejak kecil, karena pada saat itu
kondisi keluarga Abu Thalib sedang mengalami krisis ekonomi sehingga Nabi
Muhammad membantu meringankan beban keluarga Abu Thalib yaitu dengan mengajak
atau mengasuh Ali bin Abi Thalib dan membawa tinggal bersamanya, yang makna Ali
bin Abi Thalib merupakan salah satu putra dari pamannya, Abu Thalib. Setelah
Ali bin Abi Thalib mengetahui apa yang dikerjakan Nabi, maka Ali menunggu Nabi
Muhammad sampai selesai mengerjakan shalat, setelah selesai shalat maka Ali
menanyakan kepada Nabi apa yang telah mereka kerjakan, maka Nabi menjelaskan
bahwa beliau mengerjakan shalat yaitu menyembah kepada Allah yang patut
disembah, dan tidak ada Tuhan melainkan Allah SWT. Pada saat Nabi mengajak Ali
untuk memeluk ajaran Islam, maka Ali meminta waktu untuk menanyakan kepada
ayahnya terlebih dahulu yaitu Abu Thalib. Tetapi pada pagi harinya Ali langsung
menemui Nabi Muhammad dan langsung menyatakan masuk Islam tanpa meminta
pertimbangan Abu Thalib terlebih dahulu. Dan pada saat itu Ali masih berumur 10
tahun dan merupakan orang yang pertama kali menyatakan Islam dari kalangan
remaja[5].
Selanjutnya yaitu Zaid bin Haritsah yang
merupakan anak angkat Nabi Muhammad SAW. Sebelum Zaid diangkat menjadi anak
oleh Nabi Muhammad SAW, Zaid merupakan bekas budak dari negeri syam yang dibawa
oleh Hakim bin Hizam bin Khuwalid yang merupakan sepupu dari Khadijah binti
Khuwalid, kemudian Hakim menawarkan budak yang dibawa oleh Hakim kepada
Khadijah, kemudian Khadijah membeli Zaid bin Haritsah, dan dibawa pulang
olehnya. Sesampainya dirumah, ketika bertemu Rasulullah, Rasul meminta Khadijah
untuk menghadiahkan kepadanya, dan Khadijah mengabulkan keinginan Rasulullah.
Setelah itu Rasulullah memerdekakan Zaid bin Haritsah, kemudian diangkat
menjadi anaknya dan menikahkannya. Hal itu terjadi ketika sebelum Nabi Muhammad
SAW diangkat menjadi Rasul. Maka dari itu ketika Nabi Muhammad SAW membawa
ajaran agama yang baru dan benar, maka Zaid langsung menyatakan diri masuk
Islam, dengan sepenuh hati.
Masih dalam lingkup keluarga Rasulullah,
yaitu selanjutnya adalah Ummu Aiman, beliau merupakan pengasuh Nabi Muhammad
ketika masih kecil, pada saat ibu Nabi Muhammad SAW, yaitu Siti Aminah belum
wafat. Pada saat itu Ummu Aiman juga tinggal bersama Nabi Muhammad SAW membantu
Khadijah dalam mengerjakan pekerjaan rumah. Maka dari itu lengkaplah dalam
kehidupan keluarga Nabi Muhammad SAW, di dalam keluarga tersebut semuanya
beriman tanpa terkecuali, dan termasuk dalam Assabiqunal Awwalun dalam kalangan
keluarga Nabi.
Kelompok selanjutnya yaitu dalam
kalangan para sahabat. Sahabat yang pertama kali masuk Islam adalah Abu Bakar
bin Abi Quhafah atau yang biasa dikenal dengan Abu Bakar ash-Shiddiq, beliau
merupakan sahabat terdekat Nabi Muhammad SAW. Saat nabi mengajaknya untuk
memeluk agama Islam, Abu Bakar langsung menyatakan beriman, karena Abu Bakar
juga percaya bahwa Nabi Muhammad merupakan sebaik-baik manusia, yang selalu
jujur dalam berkata atau berucap.
Abu bakar memiliki kontribusi besar
dalam penyebaran ajaran Islam, karena Abu Bakar juga merupakan pembesar di
dalam masyarakat Mekkah. Abu Bakar adalah seorang saudagar yang kaya yang
dihormati oleh masyarakat Mekkah pada umumnya. Maka dari dengan dibantu oleh
Khadijah maka dalam periode pertama telah banyak orang-orang yan memeluk agama
Islam diantaranya yaitu dari sahabat dekat Abu Bakar sendiri yaitu Usman bin
Affan, Zubair bin Awwam, Abdurrahman bin Auf, Sa’ad bin Abi Waqqas, Thalhah bin
Ubaidillah, Bilal bin Rabbah,Abu Ubaidah bin Jarrah, dan Arqam bin Abil Arqam.
Mereka itulah merupakan 13 sahabat dan keluarga Nabi yang masuk Islam pertama
kali jika dihitung mulai dengan Khadijah sampai dengan Arqam bin Abil Arqam. Di
rumah sahabat Arqam bin Abil Arqam ini proses penyebaran Islam dilakukan,
karena dirumah beliaulah yang paling aman, dan jauh dari keramaian kota Mekkah.
Pada masa ini penyebaran juga dilakukan melewati mulut ke telinga karena pada
saat itu juga jumlah pemeluk agama Islam masih sedikit.
Tetapi perjuangan itu tidak hanya sampai
disitu saja Abu Bakar terus berkontribusi dan membantu Rasulullah dalam proses
penyebaran Islam, sehingga dapat dikatakan bahwa Assabiqunal Awwalun berjumlah sekitar
40 sampai 50 sahabat, hal itu karena ada bantuan dari Sahabat Abu Bakar. Jadi
Assabiqunal Awwalun yang paling utama yaitu yang berjumlah 12 sahabat, dan
selanjutnya merupakan tambahan dari Assabiqunal Awwalun tetapi juga disebut
dengan Assabiqunal Awwalun hal itu semua adalah benar. Berikut merupakan
nama-nama dari Assabiqunal Awwalun yang telah terangkum pada kitab Nurul Yaqien
dan kitab Tahdzib Sirah Nabawiyah Ibnu Hisyam yaitu, ‘Ammar ibn Yasir Al-‘Unsi,
demikian juga masuk Islam ayah Ammar,Yasir, dan ibunya, Sumayah; Abdullah ibn
Mas’ud; Abu Dzar (Jundub ibn Junadah) Al-Ghifari; Sa’id ibn Zaed Al-Adawi
Al-Qurasyi, istri beliau adalah Fathimah binti Al-Khoththob, saudara
(perempuan) Umar ibn Al-Khoththob; Ibunya Al-Fadhl, yakni Lubabah binti
Al-Harits Al-Hilaliyah, istri Al-Abas ibn Abdul Muthalib; Ubaidah ibn Al-Harits
ibn Abdul Muthalib ibn Hasyim, yakni putra paman Rasulullah SAW; Abu Salamah
ibn Abdullah ibn Abdul Asad Al-Makhzumi Al-Qurasyi, yakni putra paman
(perempuan) Rasulullah SAW; Ummu Salamah, yakni istri Abu Salamah; Utsman ibn
Mazh’un Al-Jumahi Al-Qurasyi, Qudamah, saudara Utsman ibn Mazh’un; Abdullah;
Khalid ibn Sa’id ibn Al-‘ash ibn Umayah ibn Abdu Syams Al-Umawi Al-Qurasyi; Amr
ibn sa’id; Abu Ubaidah bin Jarrah; Ubaidah bin Al-Harits; saudara perempuan
Umar bin Khaththab, Asma’ binti Abu bakar; ‘Aisyah binti Abu Bakar yang ketika
itu masih kecil; Khabbab bin Al-Arat; Umair bin Abi Waqqash; Mas’ud bin
Al-Qari; Salith bin Amru; Iyyas bin Abi Rabiah dan istrinya bernama Asma’ binti
Salamah; Khunais bin Hudzafah; Amir bin Rabiah; Abdullah bin Jahsyin dan
saudaranya bernama Abu Ahmad; Ja’far bin Abi thalib dan istrinya bernama Asma’
binti ‘Umais; Hathib bin Al-Harits dan istrinya bernama Fathimah binti
Al-Mujallil serta saudaranya bernama Khaththab dan istrinya bernama Fukaihah
binti Yasar; Ma’mar bin Al-Harits; As-Saib bin ‘Utsman bin Mazh’un;
Al-Muthallib bin Azhar dan istrinya bernama Ramlah bin Abi auf; Al-Nahham yang
bernama Nu’aim bin Abdullah; Amir bin Fuhair; Khalid bin Sa’id bin Al-Ash dan
istrinya bernama Aminah bin Khalaf; Hathib bin Amru; Abu Hudzaifah bin Utbah
bin Rabi’ah; Waqid bin Abdullah; ‘Aqil dan Iyyas anak-anak Al-Bakir bin Abdi
Yaaliil; Shuhaib bin Sinan Ar-Ruumi.
Itulah nama-nama Assabiqunal Awwalun
yang berjumlah sekitar 50 sahabat yang mana semua ini ikut berkontribusi dalam
melakukan penyebaran ajaran Islam dan membantu mensukseskan misi dakwah Islam.
Adapun dalam masing-masing jumlah Assabiqunal Awwalun banyak sekali pendapat
yang berbeda-beda dalam menyebutkan isi jumlahnya hal ini karena dari berbagai
kitab dan buku juga memiliki dasar dan landasan masing-masing. Penulis hanyalah
memaparkan dalam memberikan jalan tengah dari berbagai pendapat yaitu bahwa
jumlah dari Assabiqunal Awwalun sendiri yang utama berjumlah 10 sampai 13
sahabat dan selebihnya merupakan tambahan.
Wallahu a’lam.
Daftar Pustaka
Chalil,
Moenawar. 2001. Kelengkapan Tarikh Nabi
Muhammad SAW. Jakarta: Gema Insani
Press.
Darsono,
H dan T. Ibrahim. 2014. Tonggak Sejarah
Kebudayaan Islam 1 untuk Kelas VII
Madrasah
Tsanawiyah.
Solo: PT Tiga Serangkai Pustaka Mandiri.
Harun,
Abdus Salam. 2003. Tahdzib Sirah
Nabawiyah Ibnu Hisyam. Jakarta: Darul Haq.
Indonesia,
Kementerian Agama. 2014. Sejarah
Kebudayaan Islam. Jakarta: Kementerian
Agama Republik Indonesia.
Sunarto,
Achmad. 1992. Tarjamah Nurul Yaqien.
Semarang: CV asy-syifa'.
[1]H. Darsono dan
T. Ibrahim, Tonggak Sejarah Kebudayaan
Islam 1 untuk Kelas VII Madrasah Tsanawiyah,(Solo: PT Tiga Serangkai
Pustaka Mandiri, 2014) h. 9-10
[2]Abdus Salam
Harun, Tahdzib Sirah Nabawiyah Ibnu
Hisyam, (Jakarta: Darul Haq, 2003) h. 61-63
[3]Acmad Sunarto, Tarjamah Nurul Yaqien, (Semarang: CV
asy-syifa', 1992) h. 35-42
[4]Kementerian
Agama Indonesia, Sejarah Kebudayaan Islam,
(Jakarta: Kementerian Agama Republik Indonesia, 2014) h. 37-38
[5]Moenawar
Chalil, Kelengkapan Tarikh Nabi Muhammad
SAW, (Jakarta: Gema Insani Press, 2001)h. 176-177
Tidak ada komentar:
Posting Komentar