Jumat, 03 Agustus 2018

PROSES ISLAMISASI DAN PERBANDINGAN JUMLAH ASSABIQUNAL AWWALUN DALAM PROSES DAKWAH SECARA SEMBUNYI-SEMBUNYI PADA PERIODE MEKKAH

PROSES ISLAMISASI DAN PERBANDINGAN JUMLAH ASSABIQUNAL AWWALUN DALAM PROSES DAKWAH SECARA SEMBUNYI-SEMBUNYI PADA PERIODE MEKKAH

Oleh : Ayu Nova Hidayati (16110073)

Pada periode Mekkah Nabi melakukan dakwah secara sembunyi-sembunyi selama 3 sampai 4 tahun lamanya. Setelah diturunkan ayat yang memerintahkan Nabi Muhammad SAW untuk menyebarkan ajaran Islam kepada kerabat terdekat pada QS Asy-Syu’ara ayat 214[1], Maka Nabi memulai menyebarkan ajaran Islam terhadap kaum kerabat yang nantinya disebut dengan Assabiqunal Awwalun atau yang berarti orang-orang yang pertama kali masuk Islam.
Dalam beberapa sumber telah banyak di sebutkan jumlah dari Assabiqunal Awwalun, dalam kitab Tahdzib Sirah Nabawiyah Ibnu Hisyam[2] dan kitab Nurul Yaqien[3] disebutkan jumlah dari Assabiqunal Awwalun adalah sebanyak 51 sahabat, adapun dalam buku Sejarah Kebudayaan Islam yang dikeluarkan oleh Kemeterian Agama Republik Indonesia pada tahun 2014[4], jumlah dari Assabiqunal Awwalun yaitu terdiri atas 27 sahabat. Adapaun dalam buku-buku pada umumnya telah disebutkan jumlah dari Assabiqunal Awwalun sendiri terdiri atas 10 sampai 13 sahabat.Adapun menurut penulis sendiri bahwa jumlah yang disebutkan di atas dalam beberapa sumber semua itu benar. Tetapi disini penulis akan mencoba untuk menggolongkan atau mengkronologikan proses Islamisasi dalam keluarga Nabi, kerabat dan para sahabat Nabi. Dalam penyebaran ajaran Islam dilakukan secara bertahap, karena pada saat zaman Nabi Muhammad SAW agama dan kepercayaannnya sangatlah kental sehingga jika ada agama baru, akan banyak terjadi pertentangan dimana-mana, maka dari itu penyebaran ajaran Islam dilakukan melalui keluarga, kerabat dan sahabat terdekat beliau.
Pada saat Nabi Muhammad SAW diperintahkan untuk menyebarkan ajaran Islam, maka yang pertama kali meyakini dan mendukung Nabi Muhammad SAW yaitu istrinya sendiri, Khadijah binti Khuwalid. Khadijah merupakan orang yang pertama kali beriman kepada Allah, dan Allah menjadikan Khadijah sebagai pelipur lara bagi Nabi Muhammad SAW, karena jika Nabi dalam masalah maka Khadijahlah yang selalu menghibur beliau, bahkan Khadijah juga telah menginfakkan hartanya untuk  membela ajaran Islam dan membantu Nabi dalam menjalankan misi dakwahnya. Saat Nabi mengerjakan shalat dengan Khadijah, Ali bin Abi Thalib mengetahui apa yang dilakukan Nabi dengan siti Khadijah. Ali bin Abi Thalib merupakan sepupu Nabi Muhammad SAW yang tinggal di rumah beliau sejak kecil, karena pada saat itu kondisi keluarga Abu Thalib sedang mengalami krisis ekonomi sehingga Nabi Muhammad membantu meringankan beban keluarga Abu Thalib yaitu dengan mengajak atau mengasuh Ali bin Abi Thalib dan membawa tinggal bersamanya, yang makna Ali bin Abi Thalib merupakan salah satu putra dari pamannya, Abu Thalib. Setelah Ali bin Abi Thalib mengetahui apa yang dikerjakan Nabi, maka Ali menunggu Nabi Muhammad sampai selesai mengerjakan shalat, setelah selesai shalat maka Ali menanyakan kepada Nabi apa yang telah mereka kerjakan, maka Nabi menjelaskan bahwa beliau mengerjakan shalat yaitu menyembah kepada Allah yang patut disembah, dan tidak ada Tuhan melainkan Allah SWT. Pada saat Nabi mengajak Ali untuk memeluk ajaran Islam, maka Ali meminta waktu untuk menanyakan kepada ayahnya terlebih dahulu yaitu Abu Thalib. Tetapi pada pagi harinya Ali langsung menemui Nabi Muhammad dan langsung menyatakan masuk Islam tanpa meminta pertimbangan Abu Thalib terlebih dahulu. Dan pada saat itu Ali masih berumur 10 tahun dan merupakan orang yang pertama kali menyatakan Islam dari kalangan remaja[5].
Selanjutnya yaitu Zaid bin Haritsah yang merupakan anak angkat Nabi Muhammad SAW. Sebelum Zaid diangkat menjadi anak oleh Nabi Muhammad SAW, Zaid merupakan bekas budak dari negeri syam yang dibawa oleh Hakim bin Hizam bin Khuwalid yang merupakan sepupu dari Khadijah binti Khuwalid, kemudian Hakim menawarkan budak yang dibawa oleh Hakim kepada Khadijah, kemudian Khadijah membeli Zaid bin Haritsah, dan dibawa pulang olehnya. Sesampainya dirumah, ketika bertemu Rasulullah, Rasul meminta Khadijah untuk menghadiahkan kepadanya, dan Khadijah mengabulkan keinginan Rasulullah. Setelah itu Rasulullah memerdekakan Zaid bin Haritsah, kemudian diangkat menjadi anaknya dan menikahkannya. Hal itu terjadi ketika sebelum Nabi Muhammad SAW diangkat menjadi Rasul. Maka dari itu ketika Nabi Muhammad SAW membawa ajaran agama yang baru dan benar, maka Zaid langsung menyatakan diri masuk Islam, dengan sepenuh hati.
Masih dalam lingkup keluarga Rasulullah, yaitu selanjutnya adalah Ummu Aiman, beliau merupakan pengasuh Nabi Muhammad ketika masih kecil, pada saat ibu Nabi Muhammad SAW, yaitu Siti Aminah belum wafat. Pada saat itu Ummu Aiman juga tinggal bersama Nabi Muhammad SAW membantu Khadijah dalam mengerjakan pekerjaan rumah. Maka dari itu lengkaplah dalam kehidupan keluarga Nabi Muhammad SAW, di dalam keluarga tersebut semuanya beriman tanpa terkecuali, dan termasuk dalam Assabiqunal Awwalun dalam kalangan keluarga Nabi.
Kelompok selanjutnya yaitu dalam kalangan para sahabat. Sahabat yang pertama kali masuk Islam adalah Abu Bakar bin Abi Quhafah atau yang biasa dikenal dengan Abu Bakar ash-Shiddiq, beliau merupakan sahabat terdekat Nabi Muhammad SAW. Saat nabi mengajaknya untuk memeluk agama Islam, Abu Bakar langsung menyatakan beriman, karena Abu Bakar juga percaya bahwa Nabi Muhammad merupakan sebaik-baik manusia, yang selalu jujur dalam berkata atau berucap.
Abu bakar memiliki kontribusi besar dalam penyebaran ajaran Islam, karena Abu Bakar juga merupakan pembesar di dalam masyarakat Mekkah. Abu Bakar adalah seorang saudagar yang kaya yang dihormati oleh masyarakat Mekkah pada umumnya. Maka dari dengan dibantu oleh Khadijah maka dalam periode pertama telah banyak orang-orang yan memeluk agama Islam diantaranya yaitu dari sahabat dekat Abu Bakar sendiri yaitu Usman bin Affan, Zubair bin Awwam, Abdurrahman bin Auf, Sa’ad bin Abi Waqqas, Thalhah bin Ubaidillah, Bilal bin Rabbah,Abu Ubaidah bin Jarrah, dan Arqam bin Abil Arqam. Mereka itulah merupakan 13 sahabat dan keluarga Nabi yang masuk Islam pertama kali jika dihitung mulai dengan Khadijah sampai dengan Arqam bin Abil Arqam. Di rumah sahabat Arqam bin Abil Arqam ini proses penyebaran Islam dilakukan, karena dirumah beliaulah yang paling aman, dan jauh dari keramaian kota Mekkah. Pada masa ini penyebaran juga dilakukan melewati mulut ke telinga karena pada saat itu juga jumlah pemeluk agama Islam masih sedikit.
Tetapi perjuangan itu tidak hanya sampai disitu saja Abu Bakar terus berkontribusi dan membantu Rasulullah dalam proses penyebaran Islam, sehingga dapat dikatakan bahwa Assabiqunal Awwalun berjumlah sekitar 40 sampai 50 sahabat, hal itu karena ada bantuan dari Sahabat Abu Bakar. Jadi Assabiqunal Awwalun yang paling utama yaitu yang berjumlah 12 sahabat, dan selanjutnya merupakan tambahan dari Assabiqunal Awwalun tetapi juga disebut dengan Assabiqunal Awwalun hal itu semua adalah benar. Berikut merupakan nama-nama dari Assabiqunal Awwalun yang telah terangkum pada kitab Nurul Yaqien dan kitab Tahdzib Sirah Nabawiyah Ibnu Hisyam yaitu, ‘Ammar ibn Yasir Al-‘Unsi, demikian juga masuk Islam ayah Ammar,Yasir, dan ibunya, Sumayah; Abdullah ibn Mas’ud; Abu Dzar (Jundub ibn Junadah) Al-Ghifari; Sa’id ibn Zaed Al-Adawi Al-Qurasyi, istri beliau adalah Fathimah binti Al-Khoththob, saudara (perempuan) Umar ibn Al-Khoththob; Ibunya Al-Fadhl, yakni Lubabah binti Al-Harits Al-Hilaliyah, istri Al-Abas ibn Abdul Muthalib; Ubaidah ibn Al-Harits ibn Abdul Muthalib ibn Hasyim, yakni putra paman Rasulullah SAW; Abu Salamah ibn Abdullah ibn Abdul Asad Al-Makhzumi Al-Qurasyi, yakni putra paman (perempuan) Rasulullah SAW; Ummu Salamah, yakni istri Abu Salamah; Utsman ibn Mazh’un Al-Jumahi Al-Qurasyi, Qudamah, saudara Utsman ibn Mazh’un; Abdullah; Khalid ibn Sa’id ibn Al-‘ash ibn Umayah ibn Abdu Syams Al-Umawi Al-Qurasyi; Amr ibn sa’id; Abu Ubaidah bin Jarrah; Ubaidah bin Al-Harits; saudara perempuan Umar bin Khaththab, Asma’ binti Abu bakar; ‘Aisyah binti Abu Bakar yang ketika itu masih kecil; Khabbab bin Al-Arat; Umair bin Abi Waqqash; Mas’ud bin Al-Qari; Salith bin Amru; Iyyas bin Abi Rabiah dan istrinya bernama Asma’ binti Salamah; Khunais bin Hudzafah; Amir bin Rabiah; Abdullah bin Jahsyin dan saudaranya bernama Abu Ahmad; Ja’far bin Abi thalib dan istrinya bernama Asma’ binti ‘Umais; Hathib bin Al-Harits dan istrinya bernama Fathimah binti Al-Mujallil serta saudaranya bernama Khaththab dan istrinya bernama Fukaihah binti Yasar; Ma’mar bin Al-Harits; As-Saib bin ‘Utsman bin Mazh’un; Al-Muthallib bin Azhar dan istrinya bernama Ramlah bin Abi auf; Al-Nahham yang bernama Nu’aim bin Abdullah; Amir bin Fuhair; Khalid bin Sa’id bin Al-Ash dan istrinya bernama Aminah bin Khalaf; Hathib bin Amru; Abu Hudzaifah bin Utbah bin Rabi’ah; Waqid bin Abdullah; ‘Aqil dan Iyyas anak-anak Al-Bakir bin Abdi Yaaliil; Shuhaib bin Sinan Ar-Ruumi.
Itulah nama-nama Assabiqunal Awwalun yang berjumlah sekitar 50 sahabat yang mana semua ini ikut berkontribusi dalam melakukan penyebaran ajaran Islam dan membantu mensukseskan misi dakwah Islam. Adapun dalam masing-masing jumlah Assabiqunal Awwalun banyak sekali pendapat yang berbeda-beda dalam menyebutkan isi jumlahnya hal ini karena dari berbagai kitab dan buku juga memiliki dasar dan landasan masing-masing. Penulis hanyalah memaparkan dalam memberikan jalan tengah dari berbagai pendapat yaitu bahwa jumlah dari Assabiqunal Awwalun sendiri yang utama berjumlah 10 sampai 13 sahabat dan selebihnya merupakan tambahan. Wallahu a’lam.

Daftar Pustaka
Chalil, Moenawar. 2001. Kelengkapan Tarikh Nabi Muhammad SAW. Jakarta: Gema Insani
Press.
Darsono, H dan T. Ibrahim. 2014. Tonggak Sejarah Kebudayaan Islam 1 untuk Kelas VII
Madrasah Tsanawiyah. Solo: PT Tiga Serangkai Pustaka Mandiri.
Harun, Abdus Salam. 2003. Tahdzib Sirah Nabawiyah Ibnu Hisyam. Jakarta: Darul Haq.
Indonesia, Kementerian Agama. 2014. Sejarah Kebudayaan Islam. Jakarta: Kementerian
Agama Republik Indonesia.
Sunarto, Achmad. 1992. Tarjamah Nurul Yaqien. Semarang: CV asy-syifa'.




[1]H. Darsono dan T. Ibrahim, Tonggak Sejarah Kebudayaan Islam 1 untuk Kelas VII Madrasah Tsanawiyah,(Solo: PT Tiga Serangkai Pustaka Mandiri, 2014) h. 9-10
[2]Abdus Salam Harun, Tahdzib Sirah Nabawiyah Ibnu Hisyam, (Jakarta: Darul Haq, 2003) h. 61-63
[3]Acmad Sunarto, Tarjamah Nurul Yaqien, (Semarang: CV asy-syifa', 1992) h. 35-42
[4]Kementerian Agama Indonesia, Sejarah Kebudayaan Islam, (Jakarta: Kementerian Agama Republik Indonesia, 2014) h. 37-38
[5]Moenawar Chalil, Kelengkapan Tarikh Nabi Muhammad SAW, (Jakarta: Gema Insani Press, 2001)h. 176-177

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PUASA TASU’AH DAN ‘ASYURA DALAM ISLAM

PUASA TASU’AH DAN ‘ASYURA Oleh: Ali Hasan Assidiqi A.   PENGERTIAN DAN HUKUM DALILNYA 1.     Puasa Tasu’ah (9 Muharram) Tasu’ah b...